Dari 40 Dokumen, Semuanya Identik

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MANYARAN – Sidang dugaan korupsi kredit fiktif Bank Jateng Cabang Semarang tahun 2012, dengan terdakwa mantan analis kredit Bank Jateng, Narto, kemarin, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Semarang.
Sidang perkara atas pengajuan kredit dari empat perusahaan yang diajukan Yanuelva Etliana (buron terpidana kasus Bank Jateng) tersebut, menghadirkan ahli dari Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Semarang, Budi Santoso.
Dalam keterangan, Budi menyatakan bahwa dia diminta oleh penyidik untuk memeriksa keaslian dokumen yang disertakan untuk meloloskan kredit fiktif yang diajukan Yanuelva.
”Dari 40 dokumen yang diperiksa, diketahui memiliki tanda tangan identik. Namun, dari cap stempel, tidak identik,” ungkapnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Jhon Halasan Butar-Butar.
Budi menambahkan, ilmu yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan, menggunakan ilmu graphonomy. Yaitu menganalisis tulisan melalui ciri-ciri umum dan khusus. ”Tingkat akurasinya sempurna, karena juga dipakai di berbagai negara.”
Seperti diketahui, kasus ini merupakan perkara kedua yang dijalani terdakwa. Sebelumnya, Narto juga didakwa meloloskan kredit fiktif yang diajukan Yanuelva Eltina. Tetapi, perusahaan yang dipakai untuk pengajuan kredit itu berbeda dengan perkara sebelumnya. Kali ini, ada empat perusahaan. Jaminannya juga berbeda. Sebelumnya, pada Juli 2012 lalu, dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Semarang.
Dalam perkara tersebut, Narto dinilai tidak melakukan analisis kredit dengan benar. Yakni, tidak melakukan check on the spot atas dokumen jaminan dan lokasi jaminan. Akibatnya, 12 permohonan kredit senilai Rp 4,7 miliar itu cair dan diterima pemohon kredit (Yanuelva) melalui beberapa perusahaan pinjaman.
Padahal, jaminan yang digunakan Yanuelva adalah Surat Perintah Pekerjaan (SPP) dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Dinas Cipkataru, Badan Perizinan dan Pelayanan Terpadu (BPPT) Kota Semarang. Seluruh SPP dan SPMK tersebut fiktif, tidak memuat proyek pengerjaan dan tak memiliki anggaran.(fai/isk/ce1)

Berita sebelumyaLalu Lintas Masuk Kurikulum
Berita berikutnyaPNS Tewas di Hotel
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -