Pengusaha Keluhkan Kenaikan TDL

273

SEMARANG – Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) bagi industri golongan I3 dan I4 yang diberlakukan per 1 Mei lalu berakibat pada membengkaknya biaya produksi. Hal ini dikhawatirkan menjadikan sektor industri sulit bersaing.
”TDL untuk industri golongan I3 naik 4 persen per bulan, kemudian untuk I4 naik 8 persen per bulan. Kenaikan TDL ini jelas menjadikan biaya pokok produksi pun turut naik. Jadinya para pengusaha kelabakan untuk mengatur biaya produksi,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jateng Frans Kongi, kemarin.
Menurutnya, dengan adanya kenaikan TDL ini pengusaha akan berat memikul beban biaya produksi yang cukup tinggi. Dampaknya pun luas. Pertama adalah adanya kenaikan harga hasil produksi yang mencapai 15 persen. ”Mau tidak mau harus menaikkan harga,” katanya.
Kemudian dampak berikutnya, bisa jadi dengan kenaikan TDL yang begitu tinggi membuat perusahaan tidak mampu beroperasi dan akhirnya tutup. Kalaupun tidak tutup, perusahaan akan mengurangi jumlah karyawan dan pastinya akan terjadi PHK besar-besaran.
Sedangkan perusahaan yang paling berdampak terhadap kenaikan TDL ini adalah industri tekstil dan baja serta perhotelan. Pasalnya, untuk industri tekstil ini sebagian besar produknya adalah diekspor. Jika, harganya terlalu tinggi maka tidak akan laku di pasar internasional.
Wakil ketua APINDO Jateng, Agung Wahono menambahkan, selama ini listrik memberikan kontribusi sebesar 30 persen terhadap biaya produksi dan menjadi pengeluaran nomor dua terbesar setelah bahan baku. ”Pemerintah seharusnya melakukan peninjauan terlebih dahulu terhadap inefisiensi yang selama ini terjadi pada pelanggan rumah tangga. Jadi jangan hanya melimpahkan semuanya ke sektor industri,” jelasnya. (dna/smu/ce1)