Bende Majapahit Diarak Keliling Kampung

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

NONGKOSAWIT – Ribuan warga di Kelurahan Nongkosawit Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Kamis (15/5) sore melakukan ritual Nyadran Kubur di makam Sipule. Konon, di makam ini bersemayam Pangeran Harto Gumelar yang diyakini warga setempat sebagai penyebar agama Islam dari kerajaan Majapahit di daerah lereng Gunung Ungaran.
Prosesi diisi dengan kegiatan membersihkan makam, pengajian, proses Lungtinampen sebuah bende yang diyakini sebagai peninggalan Kiai Wali Kartona. Ribuan warga tampak riang ketika mengarak gunungan hasil bumi sebagai simbol persembahan rasa syukur kepada Tuhan.
Setelah diarak, bende kemudian disucikan di masjid yang ada di tengah kampung. Ritual ini rutin dilakukan warga setiap Kamis Wage bulan Rajab atau sebelum memasuki bulan puasa. Saat ini nyadran menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Wisata Nongkosawit.
Sesepuh kampung Karsidi Nur Hasan mengatakan, bende yang dikirab dan disucikan dulunya berfungsi untuk media komunikasi bagi lurah untuk mengumpulkan warga. ”Entah itu untuk berdoa bersama kepada Tuhan ataupun mengumpulkan warga untuk perang,” jelasnya.
Ketua Panitia Kegiatan Swarsono menambahkan, kegiatan ini sebagai bentuk menjaga eksistensi desa wisata Nongkosawit dan rutin digelar setiap tahun. ”Desa ini akan dijadikan desa wisata, sebagai penyokong waduk Jatibarang dan tentunya sebagai kalender event tahunan desa wisata ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut diterangkan, gunungan yang diarak akhirnya diperebutkan warga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. ”Gunungan itu diibaratkan srumbung yang menjaga mata air, jadi bentuk rasa syukurnya mengaraknya keliling kampung,” jelasnya. (den/ton/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -