Pertambak Keluhkan Pabrik Batu Bara

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KENDAL—Pengolahan batu bara di sekitar Pelabuhan Kendal, dikeluhkan sejumlah petani tambak (petambak). Sejak berdirinya pabrik batubara di sekitar tambak, budidaya ikan bandeng dan udang yang menjadi mata pencaharian para petani, disinyalir banyak yang mati.
Matinya bandeng dan udang, diduga akibat limbah pengolahan pabrik yang tidak dikelola dengan baik. Petani tambak mengklaim mengalami kerugian hingga mencapai puluhan juta.  
Salah satu petani tambak, Ahmatur, 52, menuturkan, limbah batu bara kerap mengalir ke tambaknya. “Terutama saat turun hujan. Limbah batu bara dibawa melalui air, kemudian mengalir ke tambak-tambak. Sehingga air tambak menjadi tercemar. Akibatnya, ikan dan udang banyak yang mati,” tuturnya, kemarin (14/5).
Akibat limbah batubara yang diduga tidak dikelola secara maksimal, air tambak menjadi keruh kehitaman dan bau.
“Kalau musim kemarau, asap maupun serpihan debu pengolahan batu bara juga banyak yang jatuh ke air tambak, menyebabkan ikan tidak bisa bertahan karena air tercemar.”
Dikatakan, di tambaknya seluas 4 hektare, ia menebar 12 ribu bibit bandeng. Dengan kondisi tambak normal, bisa memanen lebih kurang 10 ribu bandeng atau sekitar 2,5 ton. Hasil penjualan setiap kali panen berkisar Rp 45-50 juta.
Tapi, panen dua bulan lalu, ia hanya mendapatkan l separuhnya saja. Yakni, hanya bisa memanen bandeng 1,5 ton saja atau senilai Rp 25 juta. “Jika biasanya bandeng umur lima bulan itu bisa panen, tapi kali ini harus enam bulan. Itu pun bandeng masih kecil-kecil.”
Hal senada disampaikan oleh Kasipan, 30, seorang pekerja tambak. Ia menyebut, bandeng yang dikelolanya, selain banyak yang mati, juga tidak bisa tumbuh maksimal. “Sedangkan udang, sama sekali tidak bisa panen, karena udang-udang mati semua air tercemar limbah.”
Kondisi air yang diduga tercemar limbah, membuat Kasipah harus memindahkan ikan-ikan bandeng ke tambak lain, yang lokasinya jauh dari pengolahan batubara. “Jika tidak dipindahkan, bisa banyak yang mati dan gagal panen Mas,” keluhnya.
Ia berharap, pemerintah segera melakukan penertiban kepada pabrik-pabrik pengolah batu bara yang berada di sekitar tambak. (bud/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -