Sucikan Diri dengan Mandikan Rupang Buddha

324

TAWANGSARI — Ratusan umat Buddha dari berbagai kota di Jateng kemarin (15/5) memperingati perayaan Tri Suci Waisak 2558/2014 di Vihara Mahavira Graha Kompleks Marina Semarang. Dalam perayaan tersebut, umat Buddha terlihat khusyuk dalam membaca doa-doa yang dipimpin Biksu Mudita Virya.
Sebelum membaca doa, mereka melakukan ritual seperti penurunan relik dan kebaktian Waisak. Disusul ritual memandikan rupang atau patung Buddha. Ritual memandikan patung Buddha diawali oleh biksu dan dilanjutkan oleh para umat.
Biksu Mudita Virya mengatakan, dalam peringatan waisak ada tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dalam waktu yang sama tepat di saat bulan purnama. Yakni, kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, pencapaian penerangan sempurna, serta pencapaian parinibbana.
Dijelaskan, Pangeran Sidharta merupakan putra seorang Raja Sudodhana yang terlahir sebagai seorang Bodhisatva  (calon Buddha atau calon seseorang yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi). Selanjutnya pada pencapaian penerangan sempurna, di usia 29 tahun, Pangeran Sidharta pergi meninggalkan istana menuju hutan untuk mencari kebebasan dari usia tua, sakit, dan mati. ”Pada saat purnama sidhi di bulan waisak, pertapa Pangeran Sidharta mencapai penerangan sempurna dan mendapat gelar Sang Buddha,” bebernya.
Untuk pencapaian parinibbana, jelas dia, di usia 80 tahun Sang Buddha wafat atau parinibbana di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Begitu juga para anggota Sangha, mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhir kepada Sang Buddha.
Usai memberikan pembabaran, umat langsung mengikuti ritual memandikan rupang Buddha yang letaknya di samping altar sebelah kiri. Dengan tertib, satu per satu umat memandikan rupang. Ritual ini diyakini bisa menghapus kebencian, kerakusan dan kotornya hati. ”Air wangi menjadi media menyucikan patung Buddha. Ini merupakan ritual penting untuk menyucikan diri dari dosa-dosa yang pernah diperbuat,” jelasnya.
Ritual Puja Bhakti Waisak kemarin digelar di Dhammasala Maha Dhammaloka Vihara Tanah Putih Jalan dr Wahidin Semarang. Ratusan umat yang terdiri atas anak-anak, remaja dan dewasa terlihat khidmat mengikuti ritual yang dipimpin Biksu Cattamano Thera Vihara Tanah Putih.
Biksu Cattamano Thera mengatakan, dalam peringatan Waisak kali ini seluruh vihara di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia (STI) mengangkat tema besar, yakni kerukunan dasar Keutuhan. Kerukunan mencakup tiga hal, yakni sikap batin rukun, pencegahan konflik, dan persaudaraan. ”Sikap saling tolong-menolong, saling menghargai dan saling melayani itulah yang dapat menimbulkan persaudaraan sesama manusia,” katanya. (hid/gus/aro/ce1)