Termohon Eksekusi Ajukan Gugatan

273

Diduga Lelang Objek
Sengketa Bermasalah

UNGARAN — Diduga ada ketidakberesan dalam proses lelang barang sitaan bank. Trias Sulistyono dan Ratna, melalui kuasa hukumnya, R. Setiobudiarto SH, menggugat sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Semarang.
Gugatan dilakukan, karena tanah seluas 218 meter persegi milik Trias dan Ratna, dieksekusi oleh Pengadilan Negeri (PN) Ungaran, Rabu (14/5) siang kemarin. Eksekusi atas permintaan pemohon eksekusi, Fitria, warga Semarang selaku pemenang lelang.
Dalam proses eksekusi, termohon dan kuasa hukumnya tidak menolak upaya paksa penguasaan objek eksekusi oleh juru sita dari PN Ungaran.
Mereka sukarela mengosongkan sendiri rumah yang berada di pinggir jalur utama Ungaran-Bawen tersebut. Sejumlah perabotan dikeluarkan dan diangkut untuk ditempatkan di rumah saudara termohon.
Setiobudiarto membeber, semula pemilik tanah dan rumah mengajukan utang ke sebuah BPR sebesar sekitar Rp 490 juta pada 2011 lalu. Namun, proses pembayaran tidak lancar, hingga berujung penyitaan.
”Klien saya sudah mengajukan permohonan penjadwalan kembali angsuran. Pihak bank mengatakan tidak akan menyita dan melelang. Tahu-tahu, muncul surat pemberitahuan lelang sekitar Juli 2013,” kata Setiobudiarto.
Dalam proses lelang yang dilakukan Juli 2013 lalu, tidak ada pesertanya. Hingga dilakukan lelang untuk kali kedua.
Tapi, dalam lelang yang kedua, tak ada pemberitahuan apa pun kepada pemilik. Pihak termohon eksekusi, sebenarnya mengajukan penundaan eksekusi. Namun, permohonan tersebut tidak dikabulkan. Eksekusi pun tetap dilaksanakan oleh juru sita PN Ungaran, pada Rabu (14/5) kemarin.
”Tahu-tahu sudah ada pemenangnya bernama Fitria, yang menang dengan nilai Rp 300 juta. Yakni, di bawah limit harga tanah. Ada dugaan lelang tidak sesuai aturan. Sebab pemenang lelangnya dulunya karyawan BPR itu sendiri.”
Hal itu, kata dia, tidak dibenarkan. ”Karena itu, kami mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Ungaran.”

Sekretaris Panitera PN Ungaran, Mat Djuskan mengatakan, eksekusi berdasarkan surat penetapan eksekusi agar lahan tersebut dikosongkan. Sebelum eksekusi, kedua belah pihak sudah dipanggil untuk mediasi.
”Pemohon eksekusi adalah pemenang lelang bank, sehingga kami melakukan upaya eksekusi. Eksekusi berlangsung secara kekeluargaan. Termohon menyerahkan secara sukarela, sehingga tidak ada upaya paksa,” tutur Mat Djuskan. (tyo/isk/ce1)