Harga Pupuk Urea Rp 110 Ribu per Sak

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

TEMANGGUNG–Kelangkaan pupuk jenis urea di Kabupaten Temanggung menyebabkan harganya melonjak. Kelangkaan disertai permintaan yang tinggi memasuki musim tanam tembakau saat ini menyebabkan harga urea Rp 110 per sak. Harga tersebut untuk pupuk dengan kuantitas 50 kilogram yang biasanya diperjualbelikan dengan harga Rp 95 ribu.
Tugiyo, 33, petani tembakau Desa Petirejo Kecamatan Ngadirejo menuturkan, sejak tiga tahun terakhir, harga pupuk kimia terus naik, terutama ketika petani mulai membutuhkan pupuk.
Ia menyebutkan, pada 2012 harga pupuk urea Rp 72 ribu per sak, pupuk ZA hanya Rp 75 per sak. Kemudian pada 2013 harga urea naik menjadi Rp 81 ribu dan ZA Rp 85 ribu. “Saat ini harga untuk urea mencapai Rp 110 per sak, sedangkan ZA mencapai Rp 97 ribu,” katanya.
Selain mahal, untuk mendapatkan pupuk saat ini sangat sulit. Petani harus ikut anggota kelompok tani. “Ini yang menyebabkan harga pupuk menjadi sangat mahal. Jadi pupuk itu sekarang didistribusikan ke petani melalui kelompok tani, tidak seperti dulu petani bebas membeli pupuk di mana saja,” keluhnya.
Dengan adanya sistem seperti ini, sangat merugikan petani yang tidak terdaftar menjadi anggota. Karena kelompok tani menerapkan harga pupuk yang berbeda antara anggota dengan petani pada umumnya. “Kalau untuk anggota kelompok tani harga pupuk urea hanya Rp 98 ribu per sak, sedangkan di luar anggota kelompok tani dihargai Rp 110. Sebenarnya apa yang membedakan, kita sama-sama petani, kok diperlakukan berbeda,”keluhnya.
Trimah, 33, petani lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Bahkan katanya, pemerintah saat ini tidak pernah memihak pada petani. Segala macam aturan diterapkan dengan dalih agar subsidi bisa langsung pada penerimannya. Kenyataannya dengan sistem yang diterapkan pemerintah saat ini justru menyulitkan petani dan menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. (zah/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -