Kecewa Kader Egois, Rudy Mundur

273

SOLO – Keputusan mengejutkan diambil Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Rudy yang juga menjabat wali kota itu memilih mengundurkan diri dari kepengurusan partai yang telah dijabatnya selama 14 tahun atau tiga periode tersebut. Dia beralasan telah gagal mendudukkan wakil partai di DPRD provinsi.
Pernyataan sikap mundur itu diucapkan Rudy saat rapat internal pengurus partai, Kamis (15/5) malam di sekretariat setempat. Rapat internal tersebut guna membahas evaluasi pelaksanaan pemilihan legislatif (pileg), yang telah membuahkan kemenangan emas bagi PDIP di Solo. Yakni dengan duduknya keterwakilan 24 legislator PDIP di DPRD Solo, melebihi target yang ditentukan, 23 legislator.
“Di DPRD kota hasilnya bisa sangat dibanggakan. Namun di DPRD provinsi, kami gagal. Karena tak bisa mengirimkan satu pun wakil legislator dari DPC Solo,” kata Rudy kepada wartawan di balai kota, Senin (16/5).
Fakta tersebut dijadikan alasan Rudy untuk mundur dari jabatan Ketua DPC PDIP Solo. Ia merasa telah gagal membangun hierarki. Di mana keterwakilan PDIP Solo di kursi dewan terputus sampai di DPRD provinsi. Apalagi, kekosongan wakil legislator dari Solo sudah kali kedua terjadi. Sebelumnya, pada periode 2009-2014, PDIP Solo juga tak mampu mendudukkan wakilnya di provinsi.
Rudy menyadari, buruknya prestasi di provinsi juga lantaran sikap egois yang dimiliki para kader di Solo. Mereka tak memiliki antusiasme berebut kursi di provinsi. Pada pileg tahun ini, hanya ada satu perwakilan caleg dari DPC PDIP Solo yang bertarung. Namun, juga tak bisa meraih suara memuaskan.
Pria yang telah tiga periode menjabat sebagai ketua DPC itu beranggapan, putusnya keterwakilan di provinsi bakal berdampak langsung bagi keberlanjutan program kota yang digagas partai. Sebab, tawar menawar terkait aliran anggaran dari provinsi ke kota pun akan seret. Tanpa ada yang memperjuangkan, kata dia, kota hanya akan dapat bantuan provinsi dalam nilai ratusan juta.
“Ini (kemunduran) juga agar menjadi pembelajaran para kader dan caleg. Kemarin masih saling egois, tidak memahami hierarki organisasi. Tapi, ya saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Saya yang salah dan harus bertanggung jawab (mundur),” paparnya.
Ihwal keputusan mundur itu, lanjutnya, sudah bulat dan disampaikan kepada pengurus DPC, mulai tingkat PAC, ranting, anak ranting, dan para caleg. Adapun, untuk surat resmi pengunduran diri, akan dilayangkan ke ketua umum PDIP segera setelah dilaksanakan deklarasi cawapres.
Di satu sisi, pengunduran diri yang diumumkan Rudy secara tiba-tiba, setelah 14 tahun ia menjabat sebagai ketua DPC, kontan memunculkan sejumlah spekulasi. Apalagi keputusan tersebut justru diambil pada detik-detik jelang pilpres. Di mana PDIP sendiri tengah disibukkan dengan pencapresan Jokowi, koalisi partai, dan lainnya. Terakhir, santer diberitakan rencana koalisi dengan partai Golkar yang sampai saat ini masih belum ada titik terang.
Ditanya mengenai sejumlah kemungkinan lain yang melatarbelangi dia mundur, seperti adanya perbedaan pandangan terkait koalisi ataupun bentuk protes kepada pusat, Rudy dengan tegas mengelak. Dia juga menyatakan, pertemuan dengan Jokowi, Kamis (15/5) kemarin, tidak ada hubungannya dengan keputusan mundur. Meski diakuinya, rencana mundur tersebut sudah dipikirkan jauh-jauh hari.(ria/edy/mas/aro)