Berapa Menit Idealnya?

320

Tanya dr Andi:
Dok, saya dan istri sudah menikah 14 tahun. Dari awal nikah, saya tidak dapat tahan lama, paling cuma beberapa gesekan saja sudah tidak tahan dan keluar. Apakah ini yang disebut ejakulasi dini, dan bagaimana mengatasinya dok? Terima kasih dr Andi.
(ZM di Smg)

Jawab dr Andi:
Ini memang merupakan ejakulasi dini, yaitu ketidak mampuan pria untuk mengontrol ejakulasi sampai tercapai hubungan intim yang memuaskan kedua belah pihak. Banyak pria yang mengalami ini, 40 persen pria mengalami ejakulasi dini yang sedang sampai berat. Sedangkan yang mengalami ejakulasi dini yang ringan sampai berat mencapai 70-74 persen pria. Bisa dibayangkan berapa banyak suami dan istri yang kecewa saat sang suami tidak dapat mengontrol lamanya ejakulasi.
Penyebab dari ejakulasi dini ini dapat merupakan akumulasi dari berbagai faktor, yaitu: 1. Fungsi neurotransmitter yang kurang baik, sehingga pria tidak dapat mengontrol ejakulasi. Biasanya setelah menikah 3 sampai 6 bulan, pria yang fungsi neurotransmitternya normal dapat menahan dan mengontrol ejakulasinya sampai 12 menit. Angka ini didapatkan dari survei dari pasutri di Asia, biasanya lama hubungan intim rata-rata 12-15 menit. 2. Adanya kekurangan hormonal pada pria. Ini dapat disebabkan karena faktor bawaan, pola hidup yang kurang sehat, kurang aktivitas fisik dan kurang istirahat yang cukup, serta pola makan yang cenderung makan makanan yang berlemak, bahan pengawet, pemanis serta MSG. 3. Ada infeksi pada saluran reproduksi pria, misalnya infeksi prostat, saluran sperma, dll. 4. Faktor psikologis seperti adanya beban mental, stress psikis akibat problem di rumah tangga, pekerjaan, keluarga, anak dll. Bisa juga akibat terlalu tegang dan kurang refreshing. 5. Kebiasaan terburu-buru dalam aktivitas seksual, baik berupa masturbasi, petting, dan hubungan intim yang selalu terburu-buru. Semua faktor di atas berkontribusi terhadap timbulnya ejakulasi dini.
Pengobatan: untuk mengatasinya, diperlukan pemeriksaan hormonal, syaraf, serta psikologis, pemeriksaan saluran reproduksi pria, misalnya dengan ultrasonografi, pemeriksaan laboratorium hormonal dalam darah, serta pemeriksaan fisik oleh dokter.
Dokter juga akan mempertimbangkan pemberian seks terapi bagi pasangan suami istri, yaitu langkah-langkah yang harus dilatih oleh suami dengan bantuan istri. Untuk itu perlu kerjasama dan keterbukaan dari kedua pihak.