Change

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

H Sri Sulistyanto
Staf Pengajar FEB Unika Soegijapranata Semarang

MEMANG tepat jika Prof Rhenald Khasali selalu meneriakkan change. Tentu bukan hanya karena perubahan membawa angin segar. Namun juga karena bakal mengantarkan organisasi menjadi lebih gesit. Terlebih dalam lingkungan yang serba turbulent seperti ini.
Untuk itu, jika saatnya tiba, wajib hukumnya bagi organisasi untuk melakukan perubahan. Termasuk mengganti sang pemimpin. Walau sebelumnya dianggap berhasil sekalipun. Karena jika orang-orang itu saja yang memimpin, organisasi juga bakal seperti itu-itu pula.
Itu sebabnya Intel, perusahaan microprocessor ternama, segera melakukan suksesi ketika CEO-nya pensiun. Bahkan penggantinya, Paul Otellini, adalah akuntan. Beda dengan pendahulunya dan key people di perusahaan itu yang hampir semuanya engineer (Khasali, 2007).
Maka mudah dimengerti jika pendekatan manajerial yang digunakan Otellini pun jauh berbeda dengan para pendahulunya. Dampaknya, apa yang dilakukannya segera memancing kasak-kusuk, pertentangan, dan resistensi di kalangan karyawan. Karena terasa aneh bagi mereka.
Namun, Otellini, dengan kemampuannya membaca market, marketing, dan persaingan— sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan para engineer Intel— berhasil menjawab tantangan tersebut. Dia membawa Intel memasuki era baru teknologi informasi (IT).
Bahkan bukan lagi hanya sebagai pionir. Tapi juga membuat Intel menjadi market leader produk IT. Bahkan ketika pasar dan persaingan berubah. Karenanya tidak bisa dimungkiri jika perubahan memang merupakan kunci untuk mencapai puncak keunggulan.
Sebaliknya dengan kegagalan, mengutip Baswedan (2010), terjadi karena organisasi terlambat mengantisipasi perubahan. Bukan hanya karena ketidakmampuan semata. Itu sebabnya organisasi harus berani keluar dari sekat-sekat masa lalu. Yang sering membatasi geraknya.
Karena itu tidak mengherankan jika disertasi Mooryati Soedibyo tentang suksesi kepemimpinan perusahaan keluarga pun menyimpulkan bahwa kurang dari separo pemilik perusahaan yang melihat pentingnya mempertahankan dominasi keluarga sedarah (Pambudi, 2007).
Bagi mereka profesionalisme lebih penting. Dibanding dengan kebesaran nama keluarga. Itu sebabnya setiap orang yang dianggap mampu dan kompeten dipersilakan memegang kendali perusahaan. Tidak selalu harus keturunan langsung founding father-nya.
Tapi itu semua untuk organisasi bisnis. Bagaimana dengan pemerintahan? Mestinya tidak jauh beda. Organisasi pemerintahan juga harus dikelola dengan profesionalisme. Bukan dengan spirit eksklusivitas kelompok atau keluarga, seperti di negara monarki.
Namun sayangnya, pada era reformasi ini, tokoh yang mencalonkan dan dicalonkan jadi pemimpin, pusat maupun daerah, cenderung masih didominasi oleh wajah-wajah lama. Yang langsung maupun tidak langsung punya hubungan dengan para penguasa sebelumnya.
Meskipun dari aspek leadership, kemampuan setiap tokoh tersebut tidak perlu diragukan, karena semuanya mumpuni di bidangnya. Namun kesamaan platform akan membuat gaya kepemimpinan dan kebijakannya tidak jauh berbeda dengan pendahulunya.
Ini artinya, rakyat Indonesia terpaksa memperpanjang mimpinya untuk menikmati perubahan. Karena, meski para pemimpin itu menjanjikan perubahan, bisa dipastikan konsep yang didengungkan semu belaka. Kecuali tebaran kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) di mana-mana.
Oleh sebab itu semuanya memang hanya bisa diserahkan kepada masyarakat, sebagai ”stockholder” Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar makin smart dalam memilih pemimpin. Yakni mereka yang paling sedikit punya hubungan dengan masa lalu.
Cuma, masalahnya, memang ada? Pertanyaan yang sulit dijawab. Meniru cara Kemendikbud, yang menghentikan penerimaan mahasiswa baru Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk memutus lingkaran setan ”tradisi” tawurannya, memang tidak mudah. (*)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -