Disinyalir Banyak Oknum Bermain

314

LAHAN parkir merupakan tempat yang potensial untuk menggali pundi-pundi rupiah. Selain parkir resmi, ada juga lahan parkir yang tidak bertuan alias tidak resmi. Disinyalir, banyak oknum bermain di lahan tak resmi.
Ketua Ikatan Keluarga Besar Semarang, Herlambang, mengakui, banyak anggota IKBS yang menjadi juru parkir di sejumlah titik strategis. Ia pun secara gamblang mengindikasikan adanya oknum Dishub yang ikut campur. “Jelas ada indikasi itu. Biasanya, permainan mereka pada karcis parkir yang diberikan,” katanya kepada Radar Semarang.
Politisi Partai Gerindra itu berpendapat, jika Dishub bisa memaksimalkan lahan parkir yang ada dan tidak acara kecurangan, maka pendapatan dari parkir bisa tinggi. “Parkir resmi pun harus ditertibkan, soalnya pasti ada permainan,” sentilnya.
Seorang juru parkir, Budi, 20, mengakui, duit yang disetor ke pemilik lahan parkir sedapatnya. “Paling kadang ngambil sedikit buat uang rokok,” tutur pria yang mengaku telah menjadi juru parkir di belakang Plaza Simpanglima sejak 2 tahun terakhir.
Ia enggan menceritakan berapa setoran yang diberikan setiap hari kepada pemilik lahan. “Saya tidak tahu. Yang jelas, saya diajak saja untuk jadi parkir oleh tetangga.”
Adi, 35, seorang juru parkir di sebuah Warteg di daerah Puri Anjasmoro, mengaku menjadi juru parkir lantaran tidak punya pekerjaan tetap. ” Nggak ada yang minta, tapi saya izin dulu sama yang punya Warteg. Sekalian jaga motor yang beli, biar tidak dicuri.”
Meski tanpa diminta, ia tetap memberikan uang hasil parkir kepada sang pemilik Warteg. ” Ya tidak tentu, tapi tetap ngasih, itungi-itung uang sewa. Tapi tergantung dapat berapa dari penghasilan parkir.”
Dalam sehari, ia bisa mengantongi uang parkir minimal Rp 100. “Dibagi dua sama teman. Belum lagi buat jajan, kalau buat menafkahi anak istri ya cukup tidak cukup.” (den/isk)