Indikasi Menuju Krisis Moral



Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Sosiolog Yetty Rowulaningsih menilai banyak faktor yang menyebabkan judi skor bola kembali merebak. Mulai dari permasalahan sosial hingga kurangnya penanaman nilai-nilai di lingkungan keluarga. “Fenomena ini bisa dibilang cukup kompleks. Penyebabnya bukan hanya variabel tunggal, tapi banyak aspek,” ujarnya.

Diantaranya mental masyarakat yang masih suka mendapatkan keuntungan dengan cara-cara yang instan. Salah satunya yaitu dengan judi tebak skor bola, tanpa memikir dampak yang lebih jauh.

”Mungkin judi di permukaan tidak terlalu kelihatan, tapi ternyata masih tetap ada. Kebetulan ini pas momennya banyak pertandingan bola. Sekalian dijadikan ajang judi,” ujarnya.

Kemudian ada juga yang sekadar iseng ikut-ikutan, karena lingkungan atau komunitas di sekelilingnya melakukan praktik tersebut. Kendati demikian, ia sangat menyayangkan, jika judi-judi semacam ini sudah menyentuh kalangan pelajar.

”Kalau pelajar-pelajar ini mungkin alasannya ya sekedar iseng, ikut-ikutan untuk seru-seruan. Tapi kok menurut saya kalau sampai pelajar iseng judi itu ya nggak tepat. Ini bisa jadi indikasi menuju krisis mental,”ujarnya.

Menurutnya orangtua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat berperan penting dalam mengatasi hal tersebut. Yaitu dengan memberikan perhatian yang selayaknya diterima anak serta penanaman nilai-nilai yang seharusnya diterima anak-anak sejak dini.

”Saat ini seringkali orangtua abai. Sibuk mencari materi tapi kurang memberikan perhatian. Sehingga nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan pada anak sejak dini, jadi memudar,”ujarnya.

Demikian halnya dengan pergeseran nilai di masyarakat. Kondisi masyarakat yang dulu lebih guyub kini kebanyakan bersifat individualis. Acuh tak acuh dengan perkembangan dan keadaan sekitar. Hal ini memberi kesempatan bagi anak-anak muda untuk dapat menyimpang dari nilai-nilai tersebut. “Masyarakat sekarang cenderung cuek, ada anak-anak muda bergerombol, taruhan, judi, ya cuek saja. Harusnya kan lebih peduli, diarahkan dan lain-lain,” ujarnya. (dna/ton)

Berita sebelumyaBahasa Asing Jadi Momok
Berita berikutnyaJago DPW dan DPP Bersaing
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -