Jadi Kurir Narkoba, Bolot Ditangkap

328

UNGARAN – Seorang kurir sabu-sabu bernama Siswanto alias Bolot, 32, warga Kampung Tegalsari, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, kemarin, diringkus petugas Satuan Reserse Narkoba Polres Semarang.
Bolot, dalam tiga bulan terakhir, telah mengirimkan sekitar 225 gram sabu ke Kota Semarang. Tersangka diringkus di Jalan Gatot Soebroto, Ungaran. Polisi menyita 15 gram sabu-sabu yang ditemukan dalam saku celana Bolot.
Sayangnya, polisi kesulitan mengungkap siapa bandar narkoba. Sebab, model penjualan narkoba menggunakan sistem rantai terputus. Sehingga antara kurir dengan bandar, tidak saling kenal.
Kasat Narkoba Polres Semarang AKP Kuwat Slamet menjelaskan, Bolot ditangkap setelah pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya pengiriman paket mencurigakan yang diduga narkoba. Polisi lantas melakukan penyelidikan. Hasilnya, polisi mengetahui ciri-ciri pelaku yang kerap mengambil paket mencurigakan tersebut.
”Dari informasi itu, kami menyelidiki dan akhirnya didapatkan titik terang bahwa pelakunya adalah Bolot. Tersangka kami tangkap di Jalan Gatot Soebroto, Ungaran. Setelah digeledah, ada tiga paket sabu, masing-masing seberat 5 gram di saku celananya,” kata Khuwat, Rabu (21/5) kemarin.
Kepada penyidik, Bolot mengaku berkomunikasi dengan bandar via telepon. Biasanya, ia mengambil sabu di bawah pohon, di beberapa tempat yang sudah ditentukan.
Akibat perbuatannya, penyidik menerapkan pasal 114 ayat 1 jo pasal 112 ayat 1 jo pasal 127 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya, minimal 4 tahun, maksimal 12 tahun. 
Bolot mengaku sudah 15 kali, selama tiga bulan, mengirimkan sabu. Biasanya, sabu-sabu diambil di Bawen atau tempat lain, yang kemudian dikirim ke Semarang, di lokasi pemesan.
Jika barang sudah ada, Bolot diminta mengirim untuk diletakkan di sebuah tempat publik. Sehingga pemesan bisa mengambil sesuai instruksi.
”Sekali kirim biasanya 15 gram dan transaksi yang saya lakukan sistem terputus. Jadi, saya tidak pernah bertemu bandar atau yang memesan. Untuk nama bandar, di telepon saya namai pakai kode Pst (pusat) dan Om Pst,” ucap bapak satu anak itu.
Bolot yang sehari-hari bekerja sebagai perajin akuarium itu, menjadi kurir sabu karena tergiur bayaran menjanjikan sang bandar. Sekali kirim, Bolot diberi upah Rp 600 ribu; dan sedikit bagian sabu-sabu yang bisa dikonsumsinya. (tyo/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.