10 Jalan Dikaji Satu Arah

313

Urai Kepadatan Lalu Lintas

BALAI KOTA – Banyaknya simpul jalan di Kota Semarang yang mulai menjadi titik kemacetan, membuat Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang harus memutar otak untuk mengurai kemacetan. Sejumlah formula telah disiapkan untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas. Salah satunya mengkaji jalur satu arah di 10 titik jalan protokol.
Kabid Perhubungan Darat Dishubkominfo Kota Semarang Kusnendar mengatakan, kajian ditargetkan bisa selesai tahun ini dan diharapkan tahun depan sudah akan bisa diberlakukan. Berbagai pertimbangan dan koordinasi akan dilakukan dengan semua pihak yang terkait termasuk dari pengamat. ”Dari hasil konsultasi dan masukan dari beberapa pihak, salah satu solusi mengurai kemacetan memang adalah dengan memberlakukan jalur satu arah,” ujar Kusnendar, Jumat (23/5).
Sepuluh jalan yang akan dibuat satu arah tersebut adalah Jalan Mataram, Jalan Dr Cipto, Jalan Gajahmada, Jalan MH Thamrin, Jalan Pandanaran, Jalan Pemuda, Jalan Pierre Tendean, Jalan Veteran, Jalan Sriwijaya, dan Jalan Menteri Supeno. ”Pemberlakuan jalur satu arah diperkirakan bisa pada tahun depan dan saat ini masih dalam tahap kajian,” katanya.
Alasan memberlakukan jalur satu arah di 10 jalan tersebut, menurutnya berdasarkan pengalaman mengubah Jalan Indraprasta menjadi satu arah. Kebijakan tersebut bisa mengurai kemacetan yang dulu sering terjadi di wilayah itu. ”Sebelumnya sudah ada Jalan Indraprasta (dibuat satu arah) yang berhasil mengurai kemacetan di kawasan tersebut, termasuk mengurai kemacetan di dekat Hotel Siliwangi yang sempat menjadi titik macet,” jelasnya.
Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mendukung semua upaya yang dilakukan oleh pemkot untuk mengatasi titik-titik kemacetan yang terjadi di kota, seperti rekayasa lalu lintas dengan membuat jalur satu arah. Rencana pemberlakuan jalur satu arah di 10 jalan tersebut sebaiknya juga segera diujicobakan saja. ”Sebaiknya diuji coba dulu, dari hasil uji coba bagaimana dampaknya, jika (lalu lintas) tambah semrawut dan merugikan pertumbuhan ekonomi di sekitar jalan tersebut maka harus dipikirkan lagi, sebab prinsipnya (jalur satu arah) jangan sampai merugikan,” tegasnya.
Pakar Transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Djoko Setijowarno berpendapat, sistem satu arah pada umumnya akan meningkatkan kapasitas jaringan jalan. Sistem satu arah akan efektif, jika dilakukan pada sistem jaringan jalan berbentuk grid. Mengingat penerapan sistem satu arah harus terdapat pasangan jalan yang memungkinkan arus berlawanan melalui jalan yang lain. ”Sistem satu arah dapat dilakukan secara waktu terbatas maupun sepanjang hari,” jelasnya.
Sebelum menerapkan sistem jalan satu arah, maka ada beberapa pertimbangan yang bisa diperhatikan. Di antaranya jaringan jalan yang ada apakah dapat diperoleh sepasang jalan searah untuk mendistribusikan arus yang sebelumnya dua arah, pengaruh yang muncul terhadap pengoperasian angkutan umum. Apakah perlu dilakukan pertimbangan terhadap larangan parkir untuk memenuhi jumlah lajur yang cukup, perubahan apa saja yang perlu dilakukan dalam perambuan, marka, lampu pemberi isyarat lalu lintas dan peralatan pengontrol lainnya. (zal/ton/ce1)