Bangun Kedekatan Emosional untuk Cegah Money Politic

362

Wachid Nurmiyanto adalah satu di antara 20 anggota DPRD Kota Semarang incumbent yang masih akan menjabat sebagai wakil rakyat pada periode 2014-2019. Namanya memang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Kota Atlas, utamanya di wilayah Mijen, Ngaliyan, dan Tugu, yang merupakan daerah pemilihannya. Sosok ramah, santun, dan murah senyum seakan sudah melekat pada pria kelahiran Semarang, 18 Maret 1959 ini.

Dalam pemilihan legislatif (pileg) 9 April lalu, pria yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini berhasil mengantongi lebih dari enam ribu suara. Hasil tersebut membuktikan bahwa kinerja Wachid selama lima tahun (2009-2014) sebagai wakil rakyat memang amanah. Menjalankan fungsi wakil rakyat, menyerap aspirasi rakyat dengan baik dan menepati janji kampanye.  
Terus memelihara nuansa pencalegan dan menjaga tradisi mendatangi setiap kegiatan warga, baik yang sedang tertimpa musibah maupun yang sedang hajatan, menjadi salah satu kunci menjaga konstituennya. ”Selalu dekat dengan masyarakat, menjembatani kebutuhan masyarakat itu yang selalu saya lakukan. Setiap warga yang menikah, meninggal, khitanan, yang punya gawe saya selalu minta dikabari dan sebisa mungkin saya datang. Hal sepele seperti itu justru akan membangun kedekatan emosional, hal itu juga untuk memproteksi terjadinya money politic. Tradisi semacam itu terus saya terapkan meski sudah menjadi dewan,” terang warga Jalan Karonsih Timur Raya II/28 Ngaliyan Semarang itu.
Agar mendapatkan informasi setiap warganya yang punya hajat, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (Undip) ini membentuk jaringan struktural mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan. Bukan pejabat birokrasi seperti yang ada di pemerintahan, tapi fungsinya hampir sama. Yakni menjembatani apa yang dikeluhkan warga dan yang diharapkan warga. ”Harus ada penjembatan, kalau pemerintah punya lurah, camat, RT RW, saya juga punya. Sistem itu akan saya lakukan secara proporsional dan masing-masing harus menjaga kewibawaannya. Ketika ada kegiatan di lingkungan warga, ketua RT dalam struktur saya harus tahu, kemudian mengirimkan informasi kegiatan warga tersebut kepada RW, kemudian berkoordinasi kepada lurah, camat, baru ke saya. Kalau RT by pass langsung ke saya, wibawa lurah, camat sudah tidak ada. Jadi ketika membangun struktur, masing-masing posisinya harus memiliki wibawa,” tandasnya.
Selain mendatangi warganya yang punya gawe, mantan guru SMA Muhammadiyah ini juga terus membangun komunikasi dengan konstituennya. Menggelar pertemuan tiga sampai empat kali dalam sebulan di luar kegiatan reses. ”Komunikasi dan koordinasi kepada warga juga tidak pernah saya putus. Dalam sebulan saya selalu mengadakan pertemuan empat kali, itu di luar kegiatan reses. Dari situ saya akan mendapat masukan dan saya tindaklanjuti dengan menyampaikan ke pemerintah. Dengan begitu fungsi pengawasan saya selaku dewan akan lebih optimal, karena instrumen pengawasan sebenarnya ada di masyarakat,” kata Ketua DPD PAN Kota Semarang itu.
Dari pertemuan itu, lanjut Wachid, bisa mengetahui potret masyarakat Kota Semarang. Mulai dari keluhan, harapan, kendala, hingga apa yang sudah diterima masyarakat selama ini. Hak dan kewajiban masyarakat bisa diketahui secara detail. Mana yang sudah cukup, kurang, dan yang perlu ditingkatkan lagi. ”Dengan komunikasi dan koordinasi secara rutin maka saya bisa mentranformasikan kebutuhan masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah yang saya anggap sebagai pengelola, baik dalam materi maupun fasilitas,” katanya. ”Saya ingin menjadi dewan yang memiliki ”nyawa”. Dan ”nyawa” itu ada di masyarakat. Untuk itu saya harus memiliki sistem di diri saya sendiri,” tandas Wachid Nurmiyanto. (zal/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.