Dam Jebol, Musim Tanam Terancam

283

WONOGIRI–Petani pemilik 60 hektare lahan padi di Desa Cangkring, Kecamatan Jatiroto, dipastikan tak akan dapat mengolah lahannya pada musim tanam ketiga sebentar lagi. Kondisi ini terjadi karena Dam Kepuh 2 bocor besar bulan lalu. Padahal, di musim tanam terakhir, petani pemilik 60 hektare sawah itu sangat bergantung pada air dari dam yang sekitar setahun lalu ini baru direnovasi.
“Dam Kepuh 2 itu kalau tidak salah baru akhir 2012 lalu direnovasi. Saya tidak tahu siapa rekanan yang menggarapnya. Yang jelas, April lalu sudah rusak di bagian dasarnya sehingga tidak mampu menampung air untuk persipan irigasi pada musim tanam ketiga nanti,” kata Wahyudi, anggota DPRD asal Kecamatan Jatiroto.
Dia meyakini, jebolnya dasar DamKepuh 2 hingga tak mampu menampung air itu karena buruknya kualitas pengerjaan. Ada dua kerugian besar yang mesti ditanggung masyarakat terkait jebolnya dasar dam tersebut.
Pertama, uang rakyat harus tersedot lagi untuk biaya perbaikan. Sedang kedua, petani pemilik 60 hektare lahan yang mengandalkan air dari dam tersebut tak bisa mengolah lahannya pada musim tanam ketiga. Artinya, petani harus rela rugi selama semusim. Kerugian yang ditanggung rakyat akan semakin besar jika tidak segera ada perbaikan. Sebab, gerusan air pada kebocoran dasar dam yang diameternya sekitar dua meter itu berpotensi mengikis badan bendungan. Jika sampai badan bendungan jebol, diperlukan anggaran tak kurang dari Rp 500 juta untuk memperbaikinya lagi.
Kepala Desa Cangkring, Rusdiana mengatakan, kebocoran Dam Kepuh 2 itu terjadi pertengahan April lalu. Kebocoran di dasar dam itu terjadi bersamaan dengan hujan deras dan banjir di wilayah tersebut. Dia menyebut, untuk menambal kebocoran, diperlukan biaya
sekitar Rp 100 juta.
“Kami berharap perbaikkan dam ini menjadi prioritas karena airnya sangat dibutuhkan petani. Sementara ini, kebocoran itu hanya ditambal ala kadarnya. Dengan karung pasir dan bambu,” katanya. (aw/bun)