Konsumsi Susu Masih Rendah

351

BALAI KOTA – Tingkat konsumsi susu masyarakat Kota Semarang masih sangat rendah. Dari data yang ada tingkat konsumsi hanya 2,1 liter per kapita per tahun. Sangat jauh sekali dibanding angka ideal konsumsi susu nasional yang mencapai 17 liter. Bahkan lebih rendah lagi kalau dibandingkan konsumsi susu rata-rata penduduk negara-negara ASEAN yang sudah di atas 20 liter/tahun. Masih rendahnya tingkat konsumsi susu tersebut diakui Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang.
Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kota Semarang Intan Indriawan mengatakan, banyak kendala yang menyebabkan tingkat konsumsi susu masyarakat Semarang masih sangat rendah. Berbagai kendala tersebut dikategorikan dalam kendala teknis dan nonteknis. ”Dari kendala teknis, seperti mahalnya harga susu olahan, rendahnya ketersediaan susu lokal, serta rendahnya daya beli masyarakat. Sedangkan kendala nonteknis, seperti kurangnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat susu, dan pilihan adanya sumber protein dari makanan lain,” jelasnya kemarin.
Selain itu, Kantor Ketahanan Pangan sendiri saat ini lebih fokus untuk menggalakkan gerakan menuju pola pangan harapan, karena ditargetkan terealisasi pada tahun 2020 mendatang. Pola pangan harapan adalah upaya mengunggulkan potensi pangan lokal seperti umbi-umbian dan perikanan. ”Kami mengutamakan pemaksimalan konsumsi umbi, ikan, dan susu, serta upaya mengurangi konsumsi nasi dan tepung terigu, karena tupoksi kami gerakan mengonsumsi makanan sehat jadi bukan hanya susu,” katanya.
Mengonsumsi susu dapat membantu perkembangan fisik dan otak, serta pertumbuhan tulang pada bayi, mengganti sel-sel yang rusak pada remaja, menjaga kepadatan tulang pada orang dewasa, dan mencegah osteoporosis pada orang lanjut usia.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo mengaku prihatin terhadap rendahnya tingkat konsumsi susu masyarakat Semarang. Dinas Ketahanan Pangan perlu melakukan dan menguatkan sosialisasi kampanye dan promosi minum susu dengan kerja sama bersama Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Semarang memang bukan penghasil susu olahan tetapi bukan berarti kesadaran mengonsumsi susu rendah sebagai kewajaran. ”Harga mahal bukan menjadi kendala untuk ukuran masyarakat Semarang, tapi yang penting kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi susu,” tegasnya.
Kantor Ketahanan Pangan juga dinilai perlu melakukan kerja sama dengan produsen-produsen susu olahan untuk ikut bertanggung jawab meningkatkan kesadaran masyarakat. Produsen susu diharapkan tidak hanya mempromosikan secara besar-besaran dan intens melalui media-media massa. Namun diminta juga mengajak masyarakat khususnya anak-anak dalam kegiatan minum susu bersama. ”Tapi jangan dengan susu yang menjelang kedaluwarsa,” tandasnya. (zal/ton/ce1)