Mendesak, Renovasi Stadion Jatidiri

499

SEBAGAI ibu kota Provinsi Jawa Tengah, harusnya Kota Semarang memiliki sarana prasarana yang lengkap, termasuk dalam bidang olahraga. Stadion Jatidiri yang digunakan sebagai home base PSIS Semarang dinilai sudah kurang layak. Area parkir, akses jalan, fasilitas stadion, serta kualitas rumput lapangan dinilai jauh dari standar internasional.
Guntur Mahendra, 27, karyawan swasta sekaligus pencinta bola yang tinggal di wilayah Gisiksari, Semarang mengatakan, Stadion Jatidiri sudah tidak layak dari segi fasilitas dan kualitas lapangan.
“Kondisi lapangan yang keras dan tidak rata, membuat permainan jadi kurang menarik. Ditambah fasilitas seperti lampu penerangan, dan kebersihan toilet yang kurang terjaga, jelas membuat stadion ini tertinggal dari stadion di kota besar lainnya,” katanya kepada Radar Semarang.
Guntur mengaku sempat iri dengan Kota Solo yang punya stadion megah berskala nasional bahkan internasional. “Kualitas rumput dan drainase lapangan Jatidiri kalah sama Solo, bahkan dengan Gelora Bumi Kartini Jepara pun kalah jauh. Kita hanya unggul kapasitas penonton saja,” paparnya.
Demikian pula untuk penyelenggaraan even sepakbola, ia juga mengaku kecewa lantaran Stadion Jatidiri tak pernah dipakai untuk ujicoba tim dari luar negeri. “Yang terakhir, hanya ujicoba antara PSIS dan Timnas U-19. Sedangkan uji coba timnas dengan tim-tim luar negeri selalu menggunakan Stadion Manahan, Stadion Kanjuruan Malang, ataupun Stadion Maguwoharjo Sleman,” keluhnya.
Pihaknya berharap agar Pemerintah Provinsi Jateng maupun Kota Semarang bisa membangun stadion baru, ataupun memugar Stadion Jatidiri menjadi stadion yang lebih layak dan memiliki standar internasional.
“Tribun penonton harus dibenahi, kualitas rumput dan fasilitas lainnya juga harus diperhatikan agar kita bisa menggelar even berskala nasional dan internasional. Minimal agar PSIS Semarang bisa memiliki prestasi di kancah sepak bola nasional,” harapnya.
Hal senada diungkapkan Chandra Gustav, 22, warga Kenconowungu, Semarang yang juga pendukung fanatik PSIS Semarang. Ia mengatakan, jika Stadion Jatidiri sudah tidak layak untuk menggelar pertandingan sepakbola skala nasional. “Fasilitas dan kondisi lapangan buruk,” katanya.
Sepakbola yang sudah menjadi industri di bidang olahraga dan mendatangkan banyak pendapatan, menurut Chandra, seharusnya dibarengi dengan penyediaan fasilitas stadion yang baik. “Sudah waktunya Stadion Jatidiri diperbaiki. Harus berstandar internasional,” ujarnya.
Herlina Susanti , 21, karyawati sebuah bank swasta pun demikian. Ia menilai jika Stadion Jatidiri sudah kurang layak. “Kurang layak menurut saya, kalau bisa direnovasi dan ditata lagi pasti lebih bagus,” ucapnya. “Jangan kalah sama Solo atau Jepara. Kalau fasilitas olahraganya saja kalah, bagaimana dengan prestasinya, pasti juga akan tertinggal,” sambungnya.
Herlina pun berharapa pemerintah punya kepedulian untuk membangun stadion yang lebih baik dan berskala internasional.
Rachel Arninda, 25, Public Relations Grand Candi Hotel mengakui, animo masyarakat Kota Semarang dalam mendukung PSIS luar biasa. Fanatisme warga terhadap sepakbola juga tinggi. Terbukti, setiap kali digelar laga kandang, stadion selalu penuh sesak penonton. Apalagi, akhir-akhir ini prestasi Tim Mahesa Jenar sedang membaik. Suporter fanatik ini merupakan aset yang tak ternilai, yang bisa mendukung prestasi tim sepakbola Kota Atlas maupun timnas semakin baik.
Sayangnya, selama ini Stadion Jatidiri yang menjadi home base PSIS hanya dipakai untuk menggelar pertandingan lokal. Sedangkan untuk laga internasional, Jatidiri tak pernah dilirik. Padahal jika sering digelar laga internasional, setidaknya bisa menyedot penonton lebih banyak lagi. Selain itu, dirinya sebagai pelaku bisnis perhotelan bisa mendapatkan sisi positifnya.
“Ya, paling tidak tim dari luar negeri yang akan berlaga bisa menginap di hotel kami. Atau bisa juga penonton fanatik dari luar kota ada yang menginap di hotel. Karena lokasi hotel kami kan paling dekat dengan Stadion Jatidiri,” ujarnya. (den/aro)