Jalin Persaudaraan Lintas Iman, Filmnya Diundang ke Italia

384

GUSDURian Temanggung for Radar KEDU

Tiga Tahun Jaringan GUSDURian Temanggung

Keprihatinan atas banyaknya aksi intoleransi di Kabupaten Temanggung, membuat sejumlah aktivis muda pencinta pemikiran almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mendirikan komunitas lintas iman. Komunitas ini konsen mengampanyekan persaudaraan lintas iman.

ABAZ ZAHROTIEN, Temanggung
 
MENDENGAR nama Temanggung, mungkin bagi sebagian orang yang tak tahu mendalam tentang daerah ini, identik dengan tembakau, terorisme, dan sejarah intoleransi.
Temanggung seolah identik dengan aksi kekerasan atas nama agama. Padahal, sesungguhnya, tidak demikian. Meski intoleransi ada, tapi tidak seluruh masyarakat di wilayah lereng Sindoro dan Sumbing ini, sepenuhnya demikian.
Yang pasti, di kabupaten penghasil tembakau itu, ada sekelompok aktivis muda pengkaji dan penggiat pemikiran Gus Dur.
Mereka menyebut kelompoknya sebagai GUSDURian, yang konsentrasi pengembangan pemikiran mantan Presiden RI Ke-4 itu. Utamanya, di bidang toleransi. Berkaca dari kerusuhan Temanggung 8 Februari 2011, para aktivis ini bertekad membangun nama Temanggung agar lepas dari jerat intoleransi.
Dua bulan setelah kejadian 8 Februari 2011, sejumlah aktivis me-launching berdirinya Jaringan GUSDURian. Tempatnya, di STAINU Temanggung.
Launching dihadiri sejumlah muspida, dengan pembicara semua tokoh agama yang ada di Temanggung. Termasuk, putri almarhum Gus Dur: Alissa Wahid.
Komunitas ini, awalnya dikomandani oleh Muhammad Masthur. Awal berdiri, GUSDURian menggalang aktivis lintas agama. Tujuannya, terjalin kerja sama antar-umat. Sehingga kerukunan antar-agama di Temanggung, menjadi kuat. ”Bukan dalam arti teologis, kita fokus kerja sama dalam bidang sosial. Soal ibadah, itu masing-masing agama. Kita tidak membicarakan tentang hal itu,” kata Sekretaris GUSDURian Temanggung, Azrul Ahsani.
Aktivis yang didominasi anak-anak muda Nahdlatul Ulama itu juga kerap menggelar kegiatan bersama. Mereka mengundang tokoh-tokoh nasional maupun tokoh lokal yang punya pengaruh besar. Tujuannya, terbangun pola kerja sama yang baik antar-aktivis jaringan GUSDURian. ”Kita bersatu padu tetapi tidak melebur. Bersatu dalam perbedaan masing-masing,” tegas Azrul.
Toh, gerakan GUSDURian, acap disimbolkan sebagai gerakan liberal, yang akan mencampuradukkan seluruh ajaran agama.
Semua agama dianggap satu ruang dan melebur menjadi satu entitas bersama. ”Tujuan akhir kami adalah, bagaimana Temanggung aman, nyaman, dan tidak lagi ada gerakan intoleransi atas nama agama. Tidak boleh lagi ada pembedaan antara satu dengan yang lain berdasarkan agamanya.”
Meski tergolong sebagai komunitas yang baru, namun kelompok ini aktif menggelar kegiatan rutin. Diskusi, maupun pemutaran film dan mengkajinya bareng-bareng.
Tidak hanya itu. Kelompok ini juga aktif memproduksi film sendiri. Film perdana mereka, berjudul Kota Teror. Yang membanggakan, film besutan mereka, diundang secara khusus oleh Religion Movie Today Festival di Torento, Italia. Lebih tepatnya, menjadi salah satu peserta festival. ”Semacam Oscar-nya film agama,” ucap Emilianto Nugroho, 28, tim kreatif film itu.
Saat ini, tim kreatif film juga tengah membesut film baru. Film ini akan diperkenalkan secara luas, tentang toleransi di Temanggung. Setiap film yang diangkat, membawa misi perdamaian dan persaudaraan antar-umat beragama. ”Harapan saya, dengan GUSDURian memelopori persaudaraan antar-umat beragama, maka Temanggung tidak lagi dikenal sebagai kota teroris. Dan, itu kami lakukan melalui film yang menggambarkan secara riil.”
Upaya untuk menjalin persaudaraan antar-umat beragama, toh banyak menemui kendala. Menyatukan orang-orang yang berbeda pemahaman, kerap ditafsirkan secara keliru oleh banyak pihak. Parahnya, kelompok ini kerap diklaim politis.
”Kita netral dari politik. Misi kita adalah mempersatukan perbedaan tanpa meleburkannya. Bersatu dan bersaudara agar lebih harmonis daerah kita,” kata Wolfredus Catur Sulistyo, 38, seorang pengurus komunitas ini.
Pria yang berprofesi sebagai pengacara ini menjelaskan, dengan adanya wadah bersama persaudaraan antar-umat beragama, akan membawa hubungan sosial yang baik. Sebagai penganut agama yang minoritas, Catur berharap banyak memiliki hubungan yang harmonis.
”Saya sangat bahagia bergabung di sini (GUSDURian) karena menjadi wadah bersama kerja sama antar-umat beragama, tidak hanya di tingkatan elite, tapi sampai grassroot.”
Dikatakan, komunitas ini bergerak untuk membantu Forum Kerjasama Antarumat Beragama (FKUB). Lebih tepatnya, untuk semakin merekatkan kerja sama antar-umat beragama di Temanggung. Wadah ini pula yang diharapkan mampu membawa kerja sama tersebut berlangsung hingga tingkat bawah.
”Prinsip kami menjaga Bhinneka Tunggal Ika dalam wujud kerja sama yang baik, tanpa ada diferensiasi berdasarkan agama.” (*/isk/ce1)