Merasa Jadi Korban, Gugat Kejari Semarang

309

KRAPYAK – Mantan Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, Heru Supriyono yang juga mantan terpidana kasus korupsi beasiswa fiktif tahun 2003 merasa perkara yang pernah menjeratnya penuh dengan rekayasa. Ia merasa menjadi korban atasan dan korban hukum. Oleh karena itulah, ia kemudian melakukan gugatan.  
Hal itu diungkapkannya sebelum menjalani persidangan atas perkara gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang kepada dirinya. Sidang yang rencananya kali pertama digelar itu urung dilaksanakan lantaran dari pihak tergugat tidak hadir tanpa disertai alasan yang jelas.  
Heru menceritakan, pada 15 Agustus 2006 Pengadilan Negeri (PN) Semarang dalam putusannya menyatakan membebaskan terdakwa I Sujoko dan  terdakwa II Heru Supriyono. Sementara, terdakwa III Yulius Basiwantoro dan terdakwa IV Untung Sudjarno dinilai bersalah telah melakukan korupsi dan menjatuhkan pidana penjara 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Selain itu keduanya juga diwajibkan membayar uang pengganti (UP) Rp 253 juta subsider 1 tahun kurungan. 
”Atas vonis tersebut, baik terdakwa III dan IV dan juga jaksa mengajukan banding pada tanggal 16 Agustus 2006. Terhadap putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa I dan terdakwa II, jaksa kemudian mengajukan kasasi pada 28 Agustus 2006,” beber Heru.
Dalam putusannya tertanggal 3 November 2008, imbuh Heru, majelis hakim MA yang diketuai H Dirwoto menyatakan menolak permohonan kasasi dan pemohon kasasi jaksa penuntut umum pada Kejari semarang. ”Artinya, seharusnya saya dibebaskan, karena kasasi jaksa ditolak,” ungkapnya.
Di sisi lain, pada putusan banding tertanggal 31 Januari 2007 Pengadilan Tinggi (PT) Jateng menyatakan terdakwa I dan II terbukti korupsi bersama-sama dan berlanjut. Sementara terdakwa III dan IV dinyatakan terbukti membantu tindak pidana korupsi secara berlanjut. Sehingga keempatnya dijatuhi pidana 1 tahun penjara, denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan serta dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp 263 juta subsider 1 tahun kurungan.
Tak puas atas putusan PT, jaksa kemudian mengajukan kasasi. Namun pada putusan kasasi tertanggal 3 November 2008, hakim MA menyatakan menolak permohonan kasasi. ”Atas hal itu, tuntutan kami dalam gugatan ini meminta adanya rehabilitasi status sebagai seseorang yang pernah ditahan. Mengembalikan hak, martabatnya, status dan kedudukan sesuai dalam putusan PN Semarang,” ungkapnya.  
Sementara itu, Kepala Kejari Semarang Abdul Azis saat dikonfirmasi perihal gugatan tersebut mengaku siap menghadapi. Ia menegaskan ketidakhadirannya kemarin lantaran baru datang dari kunjungan kerja ke Kejari Jabar. ”Prinsipnya Kejari Semarang sudah menyiapkan jasa pengacara untuk menghadapi gugatan tersebut,” tegasnya. (fai/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.