Cacing Sutra Bernilai Ekonomi Tinggi

1911

TEMANGGUNG — Potensi pasar yang dinilai cukup bagus, membuat para petani di Desa Medari, Kecamatan Ngadirejo, membudidayakan cacing sutra (tubifex).
Cacing berukuran supermini itu, digunakan untuk pakan ikan. Utamanya, jenis lele. Nilai ekonomis yang tinggi dan pangsa pasar yang luas, membuat para petani di lereng Sindoro ini, menjadikan sebagai pekerjaan sambilan.
Kebutuhan pakan lele di daerah ini dirasakan masih kurang, sehingga banyak dipasok dari luar daerah. Itu pun belum mencukupi. ”Budidaya cacing sutra ini baru dimulai sekitar setahun lalu,” jelas Aris, 48, salah seorang di antara budidaya cacing sutra di Desa Medari, Kecamatan Ngadirejo.
Ia mengatakan, ketertarikan budidaya cacing bermula dari banyaknya warga yang mencari cacing guna pakan ikan. Utamanya, ikan lele. Lalu, kata dia, sejumlah warga belajar ternak  cacing di Bulu, Temanggung. Setelah cukup mahir, mereka membuat ternak sendiri. Satu sisi, media untuk peternakan cacing sutra di Desa Medari, Ngadirejo, cukup tersedia seperti lahan dan air.
Soal bibit, kata Aris, kali pertama mencari di areal persawahan desa setempat.  Semula, bibit  cacing itu hanya satu gelas (1 liter)  saja, kemudian berkembang menjadi  banyak dalam 1-2 pekan. Sementara pakan cacing sutra cukup sederhana. Yakni, kubis. 
”Saat ini setiap hari mampu menghasilkan 4-5 liter cacing sutra, dengan harga Rp 7.000 per liter,” kata Aris sembari menambahkan bahwa cacing sutra bentuknya kecil-kecil dan berwarna merah.
Satu desa, menurut Aris, ada empat kelompok budidaya yang terwadahi dalam kelompok budidaya cacing sutra Karya Makmur. ”Meski kelompoknya ada empat unit, namun soal pemasarannya tetap dalam satu pintu.”
Kepala Dinas Peternakan Perikanan Temanggung, Slamet Saryono, mengakui, pengembangan budidaya cacing sutra di daerah ini relatif masih baru. Namun, kata dia, kini para peternak ikan lele lebih mudah mencari pakan. ”Selama ini, peternak lele mencari cacing sutra di selokan dan di sawah, namun hasilnya kurang mencukupi,” terangnya.
Ia menyebut, jumlah kelompok budidaya di daerah Temanggung ada 14 unit. Yakni, di Bulu dan Medari, Ngadirejo. ”Budidaya cacing sutra di Bulu justru lebih dulu dibandingkan di Medari. Namun hasilnya tak jauh berbeda, yakni 4-5 liter per hari,” paparnya.
Dikatakan, budidaya cacing sutra dinilai prospektif, mengingat peternakan ikan di daerah ini cukup banyak. Dari 275 unit pembibitan ikan di daerah ini, menghasilkan benih 69 juta ekor per tahun. Sementara kebutuhan benih ikan di daerah ini mencapai 150 juta ekor per tahun. (zah/lis/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.