Pelaku Beraksi Seorang Diri

350

Pembobolan Kartu Kredit
 
BANYUMANIK – Pasca-pelimpahan kasus pembobolan kartu kredit dan kartu debit milik puluhan pelanggan restoran Sixteen-8 Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang dengan tersangka Angga Sanjaya, warga Jagalan Semarang Tengah, ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang Rabu (4/6) kemarin, pihak kepolisian akan mengusut pelaku lain. Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng Kombes Pol Djoko Purbohadijoyo mengatakan meski tidak akan melakukan pengembangan atas kasus pembobolan kartu kredit dan debit atas nama tersangka Angga Sanjaya ini, namun pihaknya tetap menyelidiki adanya pelaku lain. Menurutnya, kasus ini bukan modus baru.
”Hasil pengembangan belum signifikan. Tersangka diduga hanya bekerja seorang diri. Penyidik menduga tersangka bekerja sendiri dan untuk kepentingan sendiri. Hasil sementara dari alat bukti sendiri hanya sedikit untuk dikembangkan,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (5/6).
Djoko membeberkan, penyidikan kasus ini berawal atas informasi perbankan. Pelaku menggunakan kemampuannya di bidang ITE untuk membobol kartu kredit dan debit dengan mengopi seluruh data nama, nomor kartu, tanggal masa berlaku dan menggunakannya membeli secara online internet. ”Pelaku memanfaatkan transaksi elektronik yang ada di mesin kasirnya,” imbuhnya.
Ditambahkan, pembobolan kartu kredit dan debit seperti ini rawan terjadi. Atas hal itu, ia meminta masyarakat untuk waspada dan berhati-hati saat bertransaksi. Pada saat menggesekkan kartu di mesin, jangan sampai terekam oleh alat yang tak dikenal. ”Jika seluruh data terekam, maka mudah untuk dimanfaatkan,” ungkapnya.
Seperti diketahui, kasus tersebut terjadi sekitar November 2013 yang lalu. Tersangka yang merupakan petugas IT di restoran yang bersangkutan sengaja menyalin data dan nomor seri pada kartu kredit milik pelanggan untuk selanjutnya digunakan untuk melakukan pembelian secara online menggunakan jasa Paypal. Tersangka telah ditahan sejak 5 Februari 2014 lalu.
Tercatat, beberapa barang yang sudah dibeli tersangka antara lain hardisk, kamera, powerbank, airsoft gun, dan ponsel. Selain itu, tersangka juga telah melakukan pemesanan kamar di hotel berbintang, serta donasi santunan ke sebuah tempat ibadah. Barang yang didapat dijual kembali untuk membayar utang.
Atas perbuatannya, tersangka dapat dikenai Pasal 362 KUHPidana dan Pasal 48 ayat (1) jo Pasal 32 ayat (1) UU nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan Pasal 3 UU nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. (fai/ton/ce1)