Wali Kota Ambil Alih Tukar Guling

281

”Harus kita tuntaskan. Saya tidak tahu perjanjian itu dibuat tahun berapa, tapi ini menjadi problem Pemkot Semarang. Sehingga saya bertanggung jawab, akan saya ambil alih.”

Hendrar Prihadi
Wali Kota Semarang

BALAI KOTA — Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bernjanji segera menuntaskan persoalan tukar guling (ruilslag) lahan SD Beringin 01 Ngaliyan yang sebelumnya milik Hadi Muchtar dengan lahan bengkok aset pemkot. Langkah yang akan ditempuh pemkot dalam waktu dekat adalah mengajukan pelepasan aset tersebut kepada DPRD Kota Semarang.
”Harus kita tuntaskan. Saya tidak tahu perjanjian itu dibuat tahun berapa, tapi ini menjadi problem Pemkot Semarang. Sehingga saya bertanggung jawab, akan saya ambil alih,” terang Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, kepada Radar Semarang, kemarin (5/6).
Setelah ini, lanjut Hendi, pihaknya akan menelusuri sampai sejauh mana permasalahan aset itu. Kemudian akan dilakukan kajian apakah bisa kembali atau tetap menjadi sebuah sekolah.
”Persoalannya yang terjadi adalah tukar gulingnya tidak ditepati sesuai kesepakatan awal. Yang bersangkutan sudah merasa menyerahkan tanahnya untuk sekolah, tapi yang bersangkutan justru belum mendapatkan haknya. Salah satu yang menjadi catatan penting adalah Pemkot Semarang ingin melepaskan aset, mereka harus mendapat persetujuan dari DPRD,” katanya.
”Saya akan cek, kalau memang sudah mendapatkan persetujuan dewan, maka akan kita urus. Kalau belum, tentu saja langkah yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah mengajukan kepada DPRD Kota Semarang untuk pelepasan aset terhadap yang bersangkutan,” terang Hendi.
Menurut wali kota, ada dua solusi yang akan ditempuh. Yang pertama, apakah tukar guling dengan tanah pemerintah itu bisa dilakukan. ”Kalau memang itu bisa dilakukan akan kita lakukan,” katanya.
Yang kedua, lanjut wali kota, kalau jalannya terlalu panjang dan berbelit-belit, maka ada mekanisme berikutnya. Yakni, pemkot akan membeli aset yang sebelumnya dimiliki Muchtar dalam hal ini ahli warisnya. ”Yang jelas di antara dua pilihan itu (sebagai solusi penyelesaian),” terangnya.
Wali kota juga meminta agar pihak ahli waris tidak mengambil tindakan yang dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. ”Jangan sampai mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Masak tidak percaya dengan Pemkot Semarang. Kita akan selesaikan itu. Sekarang yang penting, karena tanah itu sudah digunakan untuk sekolah, anak-anak kita jangan sampai tidak sekolah gara-gara masalah ini,” pintanya.
Sebelumnya, anggota Komisi A DPRD Kota Semarang Imam Mardjuki mengatakan, penyelesaian persoalan tukar guling tersebut harus disesuaikan dengan aturan yang sekarang. Termasuk dengan meminta persetujuan kepada dewan. Selain itu juga perlu melibatkan tim appraisal untuk menaksir harga jual tanah yang saat ini dijadikan sekolah dan tanah bengkok milik pemkot.
”Nilai jual itu bisa digunakan untuk menentukan luasan lahan yang akan diberikan kepada ahli waris pemilik lahan SD Beringin 01. Bisa jadi tidak seluas 6.000 meter lagi, tapi sesuai dengan luas lahan sekolah saat ini,” katanya. (zal/aro/ce1)