Kampung Batik Perlu Dipoles

346

BATIK Semarangan mulai dikenal masyarakat seiring dengan diakuinya batik baik di dalam maupun luar negeri. Kreativitas dalam pembuatan corak serta kerapihan detail perlu ditingkatkan guna terus mengangkat eksistensi batik Semarangan.
Desainer Ferry Setiawan mengakui, batik Semarangan kini mulai berkembang. Khususnya dari segi corak serta permainan warna yang mulai berani dan bervariasi. “Corak batik Semarangan sekarang sudah tidak terlalu kaku. Kalau dulu kan kebanyakan hanya gambar Lawang Sewu atau Tugu Muda yang ditempelkan. Kalau sekarang sudah lebih halus, sudah lebih nyeni, ada juga yang ambil motif flora dan fauna khas Semarang,”ujarnya kepada Radar Semarang, kemarin (7/6).
Kendati demikian, perancang busana yang banyak menggunakan kain-kain tradisional sebagai materi rancangannya ini menyayangkan akan kualitas dari Batik Semarangan yang dinilai masih belum setara dengan batik-batik khas dari kota lain. “Kalau dibanding dengan batik Pekalongan, Solo maupun Jogja, Batik Semarangan pengerjaannya kebanyakan kurang rapi, kurang halus. Padahal batik-batik kota lain coraknya ya gitu-gitu saja, tapi karena pengerjaannya berkualitas, jadi hasilnya lebih menarik,”katanya.
Menurutnya, idealisme dalam membatik juga bagian dari seni. Karena itu, perlu ditanamkan pada para perajin Batik Semarangan. Dengan demikian, hasil yang berkualitas akan didapat. Ujung-ujungnya harga batik ini pun kian bersaing, yang tentunya akan mengangkat kesejahteraan para perajin.
“Membatik itu ya berkesenian, tidak bisa asal. Mulai dari desain, kemudian nyanting hingga finishing harus benar-benar dikerjakan dengan baik, bila menyasar ke kualitas, bukan hanya sekadar kuantitas terus asal jadi,”ujarnya.
Ferry juga tidak menampik, bila selama ini sebagian besar pelanggannya lebih banyak meminta materi kain berupa batik dari kota lain. Namun demikian, ia tak kehabisan akal untuk terus memegang komitmen mengangkat batik Semarangan.
“Biasanya untuk  batik Semarangan, saya desain sendiri, saya gambar, kemudian cari perajin yang memang telaten untuk membuat batik tulis. Baru setelah itu saya kreasikan dalam rancangan busana,” beber pemiliki butik Bajoekoe ini.
Terkait Kampung Batik Rejomulyo, Ferry menilai perlu ada beberapa pembenahan dari segi tempat serta pelatihan bagi masyarakat di kampung tersebut. “Kalau memang mau dijadikan objek wisata, baik masyarakat maupun tempatnya perlu dipoles. Tempatnya lebih mumpuni, keterampilan masyarakatnya juga dilatih, termasuk bagaimana menyambut wisatawan yang baik,”tandasnya. (dna/aro)