Pengprov Cabor Surati Gubernur

345

SEMARANG – Merasa mengalami jalan buntu menghadapi belum turunnya dana pemusatan latihan daerah (Pelatda) yang bersumber APBD Jateng, sejumlah pengprov berencana melayangkan surat kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Beberapa pengprov diantaranya FORKI (karate), POBSI (biliar), ISSI (balap sepeda), FPTI (panjat tebing) dan PSSI (sepakbola).
Menurut Plt Ketua Umum KONI Jateng Hartono, sejumlah pengprov memang telah lama mengeluhkan soal belum turunnya dana pelatda yang terhitung sudah enam bulan sejak Januari lalu. Dia memaklumi jika tingkat kesabaran mereka sebagai ujung tombak pembinaan olahraga, sudah habis. Karena bagaimana pun pembinaan harus berjalan terus.
”Mulai Senin (hari ini, Red), beberapa pengprov seperti FORKI, POBSI, ISSI, FPTI dan PSSI akan mengirim surat ke Pak Gubernur. Intinya memohon agar beliau bisa membantu pencairan dana untuk pembinaan prestasi yang diajukan oleh KONI Jateng. Ya mangga saja, mungkin ini menjadi jalan terbaik memecahkan kendala pendanaan olahraga,” kata Hartono saat dihubungi Minggu (8/6).
Diakui Hartono, terkait belum turunnya dana pelatda, KONI sendiri saat ini tak bisa berbuat banyak selain menunggu persetujuan dari gubernur. Jika kini pengprov mulai gelisah dengan kondisi belum ada dana. Pasalnya, agenda keikutsertaan kejurnas dan menggelar kejurda akhirnya tertunda. Belum lagi ada banyak pengprov mengadakan kejurda, namun menggunakan dana talangan dulu. ”KONI pun saat ini belum bisa memberikan dana pelatda bagi 188 atlet dan 34 pelatih di tahun 2014 ini. Padahal mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Pra-PON,” katanya.
Ditambahkan dia, alokasi dana yang diajukan KONI sebagian besar memang untuk kepentingan atlet dan pelatih menghadapi Pra-PON tahun 2015. Hartono tak menampik, jika kondisi seperti ini bisa berlarut-larut bisa memberi ketidaknyamanan bagi atlet yang berbuntut pada kepindahan mereka ke provinsi lain. ”Dana terbesar memang untuk pelatda. Silakan dihitung jika ada 188 atlet dan tiap atlet mendapatkan Rp 2,75 juta per bulan dikalikan enam bulan. Lalu ada 34 pelatih mendapatkan Rp 2,85 juta per bulan dikalikan enam bulan,” katanya.
KONI sendiri, kata dia, tak bisa memberikan bantuan pelatda secara optimal kepada para atlet. Angka tersebut masih jauh dibandingkan provinsi lain seperti DKI Jakarta, Jatim atau Jabar.”Dana pelatda kami memang masih termasuk kecil. Idealnya setiap atlet bisa mendapatkan Rp 5 juta per bulan. Tapi KONI belum bisa memberikan dana pelatda yang setara dengan atlet provinsi lain,” ujarnya.
Ujian berat, kata dia, memang tengah mengepung para pembina olahraga Jateng. Setelah didera pukulan dengan hengkangnya sekitar 23 atlet potensial, enam bulan lagi KONI harus mempersiapkan diri menghadapi PON Remaja di Surabaya. Hingga saat ini, persiapan menuju ke arah PON Remaja belum dilakukan. ”Perlu diketahui bahwa atlet kita yang mutasi, bukan atlet kacangan. Mereka potensi meraih medali emas untuk PON 2016. Kami benar-benar menghadapi ujian yang begitu berat,” pungkasnya. (smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.