Satu Kelurahan Satu Bank Sampah

329

SAMPAH jika diolah dengan benar bisa menjadi barang bernilai ekonomis tinggi. Bahkan bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga. Dengan mengolah sampah sejak dari rumah tangga, setidaknya bisa mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Aktivis lingkungan hidup, Sri Ismiyati, mengatakan, keseriusan pemerintah dalam menangani masalah sampah di Kota Semarang pantas dipertanyakan. Menurut warga Jalan Kinibalu tersebut, pola pemikiran masyarakat lah yang seharusnya menjadi titik awal penanganan masalah sampah di Kota Atlas.
”Kalau pola pemikiran masyarakat sudah berubah, nyatanya masih banyak sampah menggenangi sungai. Banyak saluran dan sungai yang mendangkal karena sampah,” katanya kepada Radar Semarang.
Menurutnya, rencana pemkot mencanangkan bank sampah di setiap kecamatan patut diapresiasi. Namun, menurut Sri Ismiyati, hal itu masih kurang.
”Kalau ingin berhasil, minimal harus ada satu bank sampah di setiap kelurahan. Itu baru jempol,” ujar penggagas dan perintis bank sampah di Kelurahan Jomblang ini.
Ia mencontohkan, bank sampah yang sekarang ia kelola bersama masyarakat Kelurahan Jomblang dapat berjalan dengan baik. ”Memang awalnya sulit menyadarkan masyarakat sekitar. Namun perlahan-lahan akhirnya mampu berjalan,” katanya.
Warga Kelurahan Jomblang RW 11 dan 14 yang hingga kini menurutnya bisa dijadikan percontohan. ”Setiap hari warga di RW tersebut memilah jenis sampah, sehingga mereka tahu mana yang dapat dimanfaatkan kembali, mana yang tidak,” ujarnya.
Untuk yang dapat dimanfaatkan kembali, masyarakat diberikan pelatihan pembuatan barang kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi yang berasal dari proses daur ulang sampah tersebut. ”Memang, dari 30 orang yang saya latih, mungkin hanya 3 sampai 4 orang yang masih bertahan memproduksi kerajinan dari sampah tersebut,” katanya.
Proses pemungutan sampah RW 11 dan 14 dilakukan oleh warga setempat, yang kemudian disetorkan ke bank sampah untuk ditimbang dan diganti dengan uang. ”Setelah itu, bank sampah tersebut juga memilah, mana yang dapat didaur ulang, mana yang tidak,” jelasnya.
Untuk yang dapat didaur ulang, akan dibuat menjadi aneka kerajinan tangan yang bernilai ekonomis tinggi. ”Pemasaran masih dari mulut ke mulut dan pameran-pameran,” katanya.
Namun begitu, hingga kini, Sri mengaku sering mendapat order pembuatan pernak-pernik dari bahan sampah, seperti tas, sandal, dan barang yang lain. ”Itu juga melibatkan masyarakat sekitar. Sehingga mereka juga memperoleh penghasilan tambahan dari pendaurulangan sampah tersebut,” ujarnya.
Dia menyadari, tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Jatibarang serta bak kontainer yang menjadi tempat pembuangan sementara (TPS) mempunyai kapasitas yang terbatas. Dengan adanya bank sampah ini, warga di RW 13 yang pada dasarnya memang belum sepenuhnya mempunyai tingkat kesadaran tinggi dalam mengelola sampah, tidak lagi membuang sampah ke sungai.
”Kami pernah melakukan kerja bakti membersihkan sampah di sungai. Sampah-sampah itu berasal dari RW lain,” katanya. (mg1/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.