Dipraktikkan di Desa Mranak, Lebih Murah dari PDAM

532

Empat Mahasiswi FKM Undip Olah Air Sungai Jadi Layak Konsumsi

Berangkat dari keprihatinan melihat warga Desa Mranak, Demak, yang memanfaatkan air sungai kotor untuk kebutuhan sehari-hari, empat mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip) ini mencoba mencarikan solusi air bersih murah. Seperti apa?

M. RIZAL KURNIAWAN

KEEMPAT mahasiswi tersebut adalah Devi Prizantika, Safitri Rahmawati, Selstin Nisfu, dan Christina. Mereka sama-sama mahasiswi FKM Undip semester 4. Keempat mahasiswi ini tergerak untuk membantu masyarakat yang kesulitan air bersih berawal dari keprihatinan mereka melihat warga Desa Mranak, Demak yang menggunakan air sungai yang kotor untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kebetulan Devi yang berasal dari Kudus kerap lewat di Kabupaten Demak saat berangkat ke Semarang maupun pulang kampung.
Sepanjang perjalanan, dia sering melihat masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai memanfaatkan air sungai untuk mandi, mencuci pakaian, buang air, hingga mencuci beras. Merasa prihatin dengan kondisi warga Desa Mranak yang kesulitan mendapatkan air bersih, Devi bersama rekan timnya berniat mencarikan solusi air bersih untuk warga tersebut. Mereka mengajarkan cara mengolah air sungai menjadi layak konsumsi.
Gadis 19 tahun itu pun kemudian terjun ke lapangan untuk mencari tahu permasalahan yang selama ini terjadi di tengah warga Desa Mranak. Benar saja, dari ribuan kepala keluarga (KK), sebagian besar masih menggantungkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi, buang air, hingga mencuci beras.
Dikatakan, sebagian kecil warga memang sudah ada yang langganan perusahaan daerah air minum (PDAM). Tapi hanya warga yang mampu secara ekonomi. Sedangkan warga ekonomi lemah, utamanya yang tinggal di dekat sungai, cenderung tidak memiliki jaringan PDAM. Sehingga mereka terpaksa memanfaatkan air sungai. Untuk kebutuhan air minum dan memasak, warga membeli air galon atau air tangki.
”Rumah saya kan Kudus, setiap pulang saya lewat Demak. Dalam perjalanan saya sering melihat orang mandi, mencuci, di sungai. Saya dan teman-teman satu tim merasa prihatin, karena kita orang kesehatan tapi di lingkungan sekitar kita masih ada yang mengonsumsi air yang tidak layak dan dapat mengganggu kesehatan. Dari situ muncul ide untuk membantu masyarakat sekitar sana,” kata wanita kelahiran Kudus pada 1994 ini.
Sebelumnya, Devi dan timnya sempat membuat alat untuk penjernih air. Temuan alat tersebut diikutkan dalam sebuah lomba penelitian tingkat nasional. Meski tidak meraih juara, namun hasil karya Devi dkk masuk dalam lima besar.
”Alat tersebut skalanya kecil, hanya menghasilkan 10 liter per hari. Melihat kondisi warga Mranak itu, kita terinspirasi membuat alat penjernih air dalam skala besar. Kemudian kita coba membeli sebuah alat filter air yang lebih besar dengan kapasitas 10 ribu liter air per hari,” ujarnya.
”Penelitian ini bukan kita fokuskan pada pembuatan alatnya, karena alatnya sendiri mudah dibuat dan materialnya juga banyak yang jual, tapi lebih ke pengabdian kepada masyarakat, utamanya masyarakat Desa Mranak, Demak, yang kesulitan mendapatkan air bersih,” kata gadis yang berulang tahun setiap tanggal 29 Oktober ini.
Anak bungsu dari dua bersaudara itu menjelaskan, biasanya bahan untuk menjernihkan air salah satunya yang kerap dipakai adalah tawas. Namun Devi dkk mencoba mengenalkan cara yang lebih canggih kepada warga sekitar. Yakni, menggunakan filter, nano arang, dan silikat.
”Kita mencoba mengenalkan alat tersebut kepada masyarakat Desa Mranak, kami ingin masyarakat di sana bisa mengubah pola tidak lagi mengonsumsi air sungai yang memang kotor dan tidak layak dikonsumsi, baik untuk mandi maupun mencuci,” ujarnya.
Sebelum menguji alat rangkaiannya, Devi dkk meneliti kadar zat yang terkandung dalam air sungai Mranak. Hasilnya, air tersebut mengandung zat besi tinggi, berkaporit tinggi, dan bakteri yang tinggi.
”Kadar zat yang terkandung dalam air sungai itu benar-benar tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi sampai untuk mencuci beras, jelas tidak sehat,” katanya.
Devi dkk kemudian mencari filter penjernih air dengan kapasitas lebih besar. Pihaknya mengaku kesulitan mencari alat berkapasitas besar itu. Hingga akhirnya menemukan toko yang menjual alat tersebut dan harus mengeluarkan kocek Rp 3 juta.
”Yang punya alat itu hanya satu toko di Jawa Tengah. Kita sebenarnya juga kesulitan akan merangkai alat itu, karena tim kita cewek semua jadi tidak begitu tahu masalah elektro. Beruntung yang menjual alat itu baik, jadi saat beli juga diajari cara mengoperasionalkannya. Saat memasang alat tersebut di Desa Mranak kita juga dibantu masyarakat sekitar. Apalagi saat membawa alat itu dari Semarang ke Demak sulit sekali karena alatnya besar,” ujarnya sembari tertawa.
Sistem alat tersebut seperti PDAM, mengambil air dari sungai kemudian diproses dalam alat dan keluar menjadi air bersih. Setelah dicoba hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Air sungai yang sebelumnya keruh, berbau, dan mengadung kaporit dan zat besi tinggi, menjadi bersih dan kandungan di dalamnya berkurang. Air pun layak digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci dan mandi. Hanya saja debitnya tidak bisa besar seperti air PDAM, karena dalam pengelolaan butuh proses. Supaya lancar bisa ditampung dulu dalam tandon.
”Tapi kalau untuk diminum butuh proses lagi dengan bahan untuk mengurangi bakteri,” kata mahasiswi semester 4 ini.
Menurutnya, produksi air bersih alat tersebut sangat murah dibanding biaya PDAM. Jika biaya pemakaian PDAM Rp 50 ribu per KK per bulan. Tapi kalau dengan sistem penjernih air sungai ini, masyarakat memang harus membeli alatnya seharga Rp 3 juta, tapi itu bisa patungan, per KK Rp 30 ribu. Karena satu alat bisa untuk 10 KK. ”Kalau diitung-itung lebih murah,” tandasnya.
Alat tersebut mampu memproduksi air bersih 10 ribu liter per hari. Dan dia berharap satu alat tersebut bisa meng-cover kebutuhan air 10 kepala keluarga. ”Dengan kami mengenalkan dan memberikan pengetahuan tentang alat ini, masyarakat di sana bisa mengubah pola hidup bersih dan higienis. Dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang teknologi penjernih air,” katanya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.