Firasat Ibu-Anak Itu Berdandan Cantik

339

SUASANA duka hingga kemarin masih menyelimuti keluarga Sa’dullah, 55, warga Kampung Sampangan RT 2 RW 4, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota. Ratusan pelayat turut berbelasungkawa atas meninggalnya istri dan anak Sa’dullah dalam kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Jalan Raya Jambu, Kabupaten Semarang. Rumah korban sendiri berada di depan kediaman mantan Wakil Bupati Demak KH Muhammad Asyiq.
Dalam kejadian lakalantas itu, Sumriyati, 45, dan anaknya, Qurrotul Uyun, 22, yang mengendarai sepeda motor Honda Beat diketahui tewas tertimpa truk dump bermuatan pasir yang mengalami rem blong. Sebelum peristiwa itu, keluarga korban sudah mendapatkan firasat. Sumriyati dan anaknya sama-sama dandan cantik.
”Sebelumnya Pak Sa’dullah juga sudah meminta istri dan anaknya agar tidak ikut berangkat ke Magelang. Tapi, keduanya tetap nekat berangkat juga,” terang Khafid, adik Sumriyati, kemarin.
Dia menuturkan, sehari-hari Sumriyati membantu suaminya bekerja di Pasar Bintoro. Sa’dullah selain punya etalase untuk jualan juga mengelola toilet di pasar induk tersebut. Sedangkan, anaknya Qurrotul Uyun tercatat sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT) dan mengajar sebagai guru di SDN 7 Bintoro.
Adik Qorrotul Uyun, Imroatul Hasanah, 21, sampai kemarin masih tampak shock dengan peristiwa yang baru saja dialami ibu dan kakaknya itu. Ia tidak menyangka bila ibu dan kakaknya meninggal dalam lakalantas yang memakan korban jiwa 5 orang, termasuk keluarganya tersebut.
Khafid menuturkan, Sumriyati dan anaknya beberapa hari lalu berangkat ke rumah neneknya yang bernama Mbah Senin di Kampung Kebonpolo, Wates, Kota Magelang. Mereka hendak ikut hadir dalam hajatan di rumah tersebut bersama suaminya, Sa’dullah. Sa’dullah ketika itu naik bus. Sedangkan, Sumriyati dan anaknya memilih mengendarai sepeda motor. 
Usai hajatan yang berlangsung pada Sabtu (7/6) lalu, petang kemarin yang bersangkutan pulang ke Demak lagi melalui jalan raya tetap dengan motor miliknya tersebut. ”Biasanya kalau ke Magelang juga pakai motor,” kata Khafid yang masih tampak bersedih.
Menurutnya, ketika hendak pulang ke Demak itu, Sumriyati dan anaknya keluar duluan dari rumah neneknya di Magelang. Sedangkan Sa’dullah naik bus patas. Saat kejadian berlangsung, bus yang ditumpangi Sa’dullah terjebak macet di dekat lokasi.
”Waktu itu, Pak Sa’dullah menerima pesan SMS dua kali dari handphone (HP) istrinya. Tapi, SMS isinya kosong. Karena penasaran, ia mencoba menghubungi HP istrinya tersebut. Ternyata, yang ngangkat HP itu petugas kepolisian yang memberikan kabar tentang istrinya yang sedang dibawa ke RSUD Ambarawa,” ungkap Khafid.
Memperoleh informasi itu, Sa’dullah kemudian bergegas meninggalkan bus dan langsung mencari istri dan anaknya di rumah sakit tempat mereka dirawat. Sesampainya rumah sakit, Sa’dullah sempat berputar-putar cari informasi tempat istri dan anaknya dirawat. Tak lama kemudian, ia baru tahu bila istri dan anaknya telah meninggal akibat lakalantas maut di dekat warung Kopi Eva Jambu tersebut.
Berita meninggalnya ibu dan anak warga Kampung Sampangan itu membuat para tetangga mereka ikut shock. Kemarin siang, jenazah Sumriyati dan anaknya Qurrotul Uyun telah dikebumikan di pemakaman umum Tuan Mareka, Sampangan. Para pelayat ikut mengantarkan kepergian kedua korban lakalantas tersebut hingga pemakaman.
Sekeluarga Nyaris Jadi Korban
Suasana duka kemarin juga menyelimuti rumah korban tewas lainnya, yakni Waluyo, 50, warga Kupang Rengas RT 2 RW 1 Ambarawa, Kabupaten Semarang. Saat Radar Semarang berkunjung ke rumah duka, rumah bercat hijau muda itu sudah penuh sesak saudara, kerabat, dan teman kerja korban yang datang untuk melayat. Istri dan anaknya nampak shock melihat kenyataan tersebut.
Guru kelas 6 SDN Bergas Kidul 4, Kabupaten Semarang itu meninggalkan istri Ninik Sutimah, 45, dan dua anak, yakni Niken Wulandari dan Gigih. Kecelakaan tersebut nyaris merenggut nyawa keluarga Waluyo. Sebab, istri dan anak korban sempat meminta ikut berboncengan sepeda motor untuk menghadiri pengajian di Magelang. Tetapi permintaan itu ditolak oleh Waluyo. Jika saja Waluyo mengizinkan anak dan istrinya ikut, entah apa yang akan terjadi. Bisa saja, keduanya bernasib sama menjadi tumbal jalur maut Bedono.
Kakak korban, Suroto, 63, mengatakan, istrinya masih shock dan belum bisa untuk diwawancarai dulu. Suroto mengatakan tidak ada firasat apa pun menjelang kematian adiknya itu. Hanya saja, Suroto merasakan selama dua minggu perasaannya tidak enak.
”Rasane koyok gelo, takut, cemas, dan itu mungkin firasat. Tetapi, saya tidak menyangka itu sebagai firasat. Tahu-tahu terjadi seperti ini,” tuturnya lirih saat ditemui di sela-sela prosesi pemberangkatan jenazah ke tempat pemakaman umum Gumuk Candi, Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa.
Menurut Suroto, adiknya Waluyo memang rutin ikut pengajian di Grabag, Magelang. Saat akan berangkat Minggu (8/6) pagi, istri dan anak bungsunya ingin ikut. Tetapi, Waluyo menolak permintaan anak dan istrinya. ”Waluyo keberatan kalau anak dan istrinya ikut. Ya, mungkin itu…..,” kata Suroto tanpa melanjutkan pembicaraannya sembari sesekali melihat peti mati berisi jasad adiknya yang berada di depannya. (wahib pribadi/pristyono hartanto/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.