Olahraga Jateng Mati Suri, Wacana Musorprovlub KONI Menguat

343

Hartono Sudah Talangi Dana Rp 1,5 Miliar

SEMARANG – Kisruh kondisi olahraga di Jawa Tengah yang diakibatkan macetnya pendanaan sejak Januari 2014 lalu makin membuat situasi keolahragaan di provinsi ini makin rumit. Wacana Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) Jateng makin menguat, untuk memilih dan mengganti kepengurusan KONI Jawa Tengah.
Seperti diketahui, ruwetnya kondisi induk organisasi seluruh cabang olahraga di Jawa Tengah ini dimulai dengan penetapan status tersangka Ketua Umum KONI Jateng Tutuk Kurniawan oleh Kejati Jateng karena dugaan kasus penyalahgunaan dana hibah Kelenteng Sam Po Kong pada akhir tahun lalu. Hingga akhirnya ditunjuk Hartono sebagai pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum KONI Jateng.
Entah terkait atau tidak dengan kasus yang menimpa Tutuk, sejak penetapannya sebagai tersangka, anggaran KONI Jateng yang berasal dari APBD Jateng tidak bisa lagi dicairkan. Meski Tutuk sudah non-aktif dan ditunjuk Hartono sebagai Plt.
Hingga kini, anggaran APBD KONI untuk kepentingan olahraga di Jateng tidak kunjung mengucur. Olahraga di Jateng pun mati suri. Pelatda untuk persiapan PON di Jabar 2016 mendatang terhenti. Pengprov cabor tidak bisa lagi menggelar kejuaraan setingkat provinsi lantaran tidak ada dana bantuan dari KONI. Yang membuat miris, tercatat 23 atlet andalan Jateng dari berbagai cabor mengajukan pindah ke provinsi lain karena merasa tidak lagi diperhatikan di provinsi ini. Padahal ke-23 atlet ini berpotensi merebut medali emas untuk Jateng di PON 2016 mendatang.
Ditemui kemarin, Hartono mengaku telah melakukan berbagai upaya, utamanya memberikan penjelasan kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, agar dana untuk KONI bisa dicairkan. Namun hingga kemarin, upaya itu tetap gagal. Kondisi ini membuat Hartono dan pengurus lain putusa asa. “Kalau seperti ini terus, bukan hanya saya yang susah, tapi seluruh insan olahraga di Jawa Tengah. Lebih baik memang ada Musprovlub, kalau memang cara itu bisa membuat olahraga Jateng kembali bergairah. Mungkin kita di KONI Jateng ini sudah tidak bisa dipercaya lagi,” tegasnya.
Yang mencengangkan, Hartono mengaku sudah mengeluarkan dana talangan hingga Rp 2,5 miliar dari kantong pribadinya. Dana sebesar itu, kata Hartono, digunakan untuk berbagai keperluan KONI Jateng mulai untuk event Porprov 2013 di Banyumas, bidding PON 2020 di mana akhirnya Jateng gagal jadi tuan rumah meski telah mengeluarkan uang ratusan juta rupiah, hingga dana untuk menggaji staf dan karyawan kantor KONI Jateng hingga berbulan-bulan. “Ya, memang seperti itu kondisinya. Sekarang ini, kalau orang mau jadi ketua KONI Jateng, memang harus punya setidaknya uang Rp 3 miliar untuk talang-talangan dana. Karena antara keperluan dan pencairan dana memang tidak seimbang,” keluhnya.
Terpisah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memang mengisyaratkan adanya Musprovlub. Saat ditemui di sebuah acara beberapa waktu lalu, Ganjar mengatakan bahwa idealnya memang Ketua Umum KONI Jateng adalah definitif, bukan Plt. “Idealnya ya harus definitif. Bagaimana caranya, apa mekanismenya, ya sialakan tanya pada orang-orang KONI itu,” cetusnya.
Pengamat olahraga Jateng Bambang Hoesodo juga mengatakan, memang seharusnya dilakukan Musprovlub. Siapapun ketua umum KONI Jateng, yang penting olahraga Jateng selamat. Dia menduga, ada ketidakselarasan pemikiran antara Gubernur Jateng dengan pengurus KONI Jateng saat ini. “Ini sudah mendekati saat babak kualifikasi PON. Kalau seperti ini terus, Jateng bisa tergelincir di PON 2016 nanti. Kita bisa melorot lagi di peringkat 5 atau bahkan 6, apa tidak memalukan?,” ujarnya. (smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.