Tangkar Burung Betet, Setelah Besar Dilepas

535

Ketika Pramuka Wonosobo Peduli Satwa

Keberadaan burung betet mulai langka di Wonosobo. Padahal, peran burung ini sangat bermanfaat dalam menjaga ekosistem. Burung jenis ini memangsa hama berupa lalat yang menyerang tanaman petani. Untuk menjaga populasi burung ini, Pramuka Wonosobo membuat program Save Betet.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

PRIA muda itu, kemarin sore, tampak sibuk membersihkan kandang burung di belakang kantor Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka  Wonosobo. Tepatnya, di ruas Jalan Wonosobo- Kalibaber Kampung Argopeni.
Di dalam kandang burung berukuran sekitar 1×1,5 meter itu, dia mengambil beberapa kulit jagung. Diambilnya keluar dan dibuang ke sampah. Tak begitu lama, dia menggantikan dengan jagung baru yang sudah tua. Di dalam kandang itu, terdapat dua burung betet yang sudah besar. Saat tangan pria itu masuk, burung betet langsung beterbangan dalam sangkar.
“Ini burungnya cukup liar, kalau didekati bisa mematok,” kata pria itu, yang diketahui bernama Sungkono.
Kepada Jawa Pos Radar Kedu, Sungkono mengatakan, burung betet atau dalam nama ilmiahnya Psittacula Alexandri yang dia pelihara, merupakan bagian dari kegiatan penyelamatan satwa yang diprogramkan Pramuka Kwarcab Wonosobo.
“Burung ini tiap hari saya rawat, satu kandang terdiri dari jantan dan betina,” katanya.    Sungkono mengatakan, dua burung beda jenis kelamin ini, sengaja dimasukkan dalam satu kandang agar segera kawin. Setelah itu, dalam tempo enam bulan diharapkan sudah bertelur dan beranak.
“Satu tahun, kami targetkan sudah bertelur dua kali. Setelah bertelur dierami dan jumlahnya bertambah,” ujarnya.
Kegiatan ini, kata Sungkono, sebagai bentuk kepedulian Pramuka Wonosobo dalam menjaga populasi betet yang mulai punah di Wonosobo. Dia menyebut, untuk mendapatkan burung-burung betet, sangat sulit.
“Kami beli di Jogjakarta dan Klaten. Karena mencari di Wonosobo sudah sangat sulit,” imbuhnya.
Target program tersebut, kata Sungkono, tiap tahun diharapkan akan menambah 10 ekor burung betet baru. Setelah buruh tumbuh besar, rencananya akan dilepas di alam bebas serta hutan kota. Dengan demikian, diharapkan keberadaan burung betet akan terus ada hingga masa mendatang.
“Burung betet punya fungsi baik dalam menjaga ekosistem. Tidak hanya bentuknya yang indah, namun burung ini bisa membantu petani dalam menangani hama seperti ulat. Sehingga tidak perlu pakai pestisida sintetis dalam menanggulangi hama,” paparnya.
Untuk memastikan tumbuh dan berkembang dengan baik, Sungkono yang merawat 3 pasang burung betet, memastikan tiap pagi dan sore mengecek kondisi kandang. Selain memastikan kondisi pakan dan minuman, juga mengecek kesehatan kedua burung itu. “Perawatannya sebenarnya cukup simpel, namun harus telaten. Kalau makanan telat bisa mati,” katanya.(*/lis)