Ombak Besar, Hasil Laut Turun

324

KAJEN-Ombak besar yang disertai badai beberapa hari terakhir membuat para nelayan tidak berani melaut. Ditambah adanya larangan melaut dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah Tegal, menyebabkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, sepi dari pelelangan ikan.
Samsudin, 34, warga Desa Wonokerto Kulon RT 11 RW 02, Kecamatan Wonokerto, mengaku belum berani melaut, sejak adanya kabar musibah kapal tenggelam setelah diterjang ombak. ”Ombak besar dan badai yang sering terjadi akhir-akhir ini, sangat berbahaya untuk melaut. Kami tidak berani melaut,” ungkap Samsudin, Selasa (10/6) siang kemarin.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Kabupaten Pekalongan, Wiranto, juga mengungkapkan bahwa sebagian besar nelayan tidak melaut, karena menunggu hingga cuaca membaik. ”Kalaupun ada nelayan yang nekad melaut untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarganya, hanya satu dua orang saja. Itupun tidak terlalu jauh, hanya di tepi pantai,” jelas Wiranto.
Pengelola TPI Wonokerto, Ahmad Afandi juga mengungkapkan bahwa sejak adanya cuaca ekstrim dan ombak besar di laut, sebagian besar nelayan tidak melaut. Akibatnya, kegiatan pelelangan ikan di TPI juga menurun hingga 60 persen.
”Aktivitas pelelangan ikan memang turun drastis. Biasanya volume ikan yang dilelang mencapai 900 kilogram lebih per hari, sekarang hanya 6 atau 7 orang nelayan saja dengan hasil tangkapan yang sangat sedikit,” kata Afandi.
Menurut Afandi, sebagian besar nelayan yang masih nekad melaut selama cuaca buruk dan menjual tangkapannya di TPI adalah nelayan dari Kabupaten Pemalang. ”Saat ini yang datang menjual ikan, sebagian besar nelayan dari Pemalang. Sedangkan nelayan Pekalongan langsung dijual ke pasar, karena perolehannya tidak terlalu banyak,” tandas Afandi.
Dalam kesempatan terpisah, petugas Syahbandar Pekalongan, Kamaludin, menjelaskan bahwa kondisi cuaca di perairan laut Utara Jawa masih buruk. Berdasarkan laporan BMKG, ketinggian gelombang laut Pekalongan hingga Rembang, masih berkisar antara 2 hingga 3 meter tingginya. Selain itu, kondisi angin juga tidak menentu. Karena itu, nelayan harus tetap berhati-hati. ”Selama kondisi cuaca buruk, kami sudah melarang nelayan untuk tidak melaut. Namun jika masih ada nelayan yang tetap melaut, itu keputusannya sendiri,” jelas Kamaludin.
Kamaludin juga menegaskan, meskipun tinggi gelombang cenderung turun, pihaknya belum berani mencopot bendera hitam yang dipasang sejak 2 hari lalu sebagai tanda bahaya cuaca buruk. “Pemasangan bendera hitam tersebut, merupakan hasil koordinasi dengan BMKG setiap muncul cuaca buruk. Apabila prakiraan cuaca kembali normal, bendera hitam langsung kami lepas,” tegas Kamaludin. (thd/ida)