PLTU Batang Dikhawatirkan Racuni Sumber Ikan

315

GAJAHMUNGKUR – Elemen pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Batang Batalyon (Batanglyon) menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kabupaten Batang. Mereka khawatir proyek tersebut akan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Juru bicara Batanglyon, Nurul Tamara Gustiani mengatakan pembangunan PLTU Batang bisa menyebabkan bencana bagi perikanan lokal di Batang. ”Sebab kalau PLTU Batang jadi dibangun nantinya akan menghasilkan 226 kilogram merkuri per tahun yang bisa meracuni sumber ikan di sana,” katanya di sela seminar nasional Dilema Energi Untuk Negeri : Di Balik Rencana Pembangunan PLTU Batang di Hotel Grasia, Semarang, Selasa (10/6).
Merkuri sebanyak itu, lanjutnya, berasal dari limbah batubara yang menjadi bahan bakar utama untuk mengoperasionalkan PTLU. Limbah merkuri akan masuk ke kawasan Ujungnegoro-Roban yang merupakan kawasan konservasi laut daerah yang kaya akan sumber ikan.
Padahal setiap 0,907 gram merkuri dalam danau dapat membuat ikan di area seluas 100 meter persegi menjadi keracunan logam berat sehingga tidak layak dikonsumsi masyarakat. ”Bila PLTU Batang tetap dipaksakan maka bisa menjadi bencana perikanan lokal di sana,” tandasnya.
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Arif Fiyanto yang menjadi narasumber dalam seminar tersebut menyatakan rencana pembangunan PLTU Batang akan merugikan warga sekitar. ”Sudah ada contoh pembangunan PLTU yang malah merugikan warga seperti PLTU di Cilacap, Jepara, dan Cirebon,” imbuhnya.
Arif membantah bila rencana pembangunan PLTU Batang dengan kapasitas 2 x 1.000 Megawatt batal dibangun akan menyebabkan krisis energi listrik di Jateng pada 2018. ”PLTU Batang bukan satu-satunya solusi mengatasi krisis energi listrik di Jateng, karena masih ada cara lain dengan memanfaatkan sumber panas bumi, angin dan lainnya yang sangat berlimpah di Indonesia,” tandasnya. (ric/ton/ce1)