Ingin Go International lewat Sampah

399

Ika Yudha Kurnia Sari, Gagas Bank Sampah dan Kerajinan Daur Ulang

Ika Yudha Kurnia Sari, sosok perempuan yang kreatif. Wanita 41 tahun ini menyulap sampah yang tak berguna menjadi bermanfaat dan bernilai ekonomis tinggi. Ia juga menggagas pendirian bank sampah Resik Becik di rumahnya. Seperti apa?


MIFTAHUL A’LA, Krobokan

TUMPUKAN sampah tampak tertata rapi di teras sebuah rumah di Jalan Cokrokembang No 11 Krobokan, Semarang Barat. Ada sampah kardus, koran bekas, botol, serta berbagai sampah plastik kemasan makanan ringan. Di dekatnya terlihat satu mesin jahit dan timbangan kecil. Sesosok perempuan dengan tekun memilah-milah berbagai sampah tersebut. Untuk sampah botol dan plastik disendirikan. Demikian pula sampah kardus dan kertas koran juga dipisahkan.
Ya, itulah aktivitas yang hampir setiap hari dilakukan oleh Ika Yudha. Ia sudah mengabdikan hidupnya untuk mengurusi masalah sampah di lingkungan Kelurahan Krobokan, Semarang Barat. Hal itu dilakukan lewat lembaga bank sampah yang ia dirikan bersama warga lainnya. ”Ya, seperti ini aktivitas saya, mengurusi sampah-sampah yang tidak dipakai,” katanya kepada Radar Semarang.
Ia mengaku, ide membuat bank sampah sebenarnya sudah muncul sejak 2010. Namun secara resmi bank sampah Resik Becik ini diresmikan pada 15 Januari 2012. Awalnya, ia dan sejumlah ibu-ibu di lingkungan rumahnya berkreasi membuat kerajinan. Lalu muncullah ide untuk mencari bahan yang murah dan tidak harus membeli. ”Ya, langsung kepikiran sampah. Karena jumlahnya banyak, dan tidak harus beli, karena banyak di sekitar kita,” ujarnya.

Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2000 itu memanfaatkan berbagai sampah menjadi barang kerajinan yang bernilai jual. Untuk mendapatkan sampah yang akan dibuat kerajinan, Ika menghimpunnya lewat bank sampah.
Awalnya, keberadaan bank sampah ini masih asing bagi warga setempat. Namun setelah berjalan dua tahun, kini nama bank sampah Resik Becik semakin terkenal. Bahkan saat ini nasabah bank sampah sudah mencapai 395 orang. ”Awal berdiri jumlah nasabah baru 15 orang, itu pun hanya ibu-ibu yang sering berkumpul bersama saya,” katanya.

Untuk mempermudah proses, semua nasabah bank sampah diberikan buku tabungan. Nasabah datang menabung dengan membawa sampah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setiap sampah yang ditabung, ditulis di buku tabungan. Untuk kertas koran dihargai Rp 1.300 per kg, buku/majalah Rp 800 kg, sampah plastik bening Rp 500 per kg serta gelas plastik bening Rp 1.700 per kg. ”Untuk tabungan sendiri bisa cair sebulan sekali. Jadi nabung sampah, bisa dicairkan dalam bentuk uang,” jelasnya.

Diakui, selama bank sampah beroperasi, sudah banyak memberikan dampak positif di lingkungan kampungnya. Masyarakat menjadi lebih sadar, dan bisa memilah-memilah mana sampah organik dan nonorganik. Bahkan, dari sampah itu, disulap menjadi berbagai barang kerajinan bernilai jual. Seperti tempat pensil, dompet, tas, tas bekal makanan, serta sejumlah barang lain. ”Kalau jumlahnya sekitar 100 macam kreasi dari sampah. Tapi karena keterbatasan alat dan keterampilan, jadi masih kurang banyak,” katanya.

Dengan mengusung nama brand Koelon Kalie Production, berbagai hasil kerajinan dari sampah itu dipasarkan. Harganya bervariasi mulai Rp 10 ribu sampai Rp 200 ribu per buah. Untuk pemasaran, Ika memanfaatkan bagian depan rumahnya yang dijadikan showroom. Selain itu, pemasaran dilakukan secara gethok tular alias dari mulut ke mulut.
”Untuk yang mahal itu tas anyam wanita, harganya Rp 200 ribu. Mahal karena proses menganyamnya lebih rumit,” ujarnya.
Dengan berdirinya bank sampah, Ika berharap kesadaran masyarakat tentang lingkungan bisa lebih besar. Karena dengan menjadi nasabah bank sampah, masyarakat tidak hanya bisa peduli lingkungan. Tapi, bisa mendapatkan materi meski tidak seberapa besar.
”Saya masih terobsesi bisa go nasional bahkan go international lewat sampah. Ternyata sampah bisa memiliki nilai ekonomis, jika dimanfaatkan dan dikreasikan dengan bagus,” katanya. (*aro/ce1)