Pemkab Didesak Garap Potensi Umbul Senjoyo

311

UNGARAN – Warga sekitar lokasi Umbul Senjoyo di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang segera mengembangkan Senjoyo. Sebab, selama ini sumber mata air Senjoyo yang dijadikan pemandian tidak terurus dan seakan-akan ada pembiaran. Padahal Senjoyo memiliki potensi wisata air yang besar, dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Menurut Syarifudin, 39, warga Desa Bener, Kecamatan Tengaran, lokasi sumber air Senjoyo berada sekitar 500 meter dari rumahnya. Kawasan tersebut sebenarnya berpotensi besar untuk wisata air. Sebab, sumber airnya sangat besar, bahkan PDAM Kota Salatiga saja mengambil air dari Senjoyo. Namun selama ini kawasan Senjoyo sepertinya tidak terurus. Padahal lokasi Senjoyo kerap didatangi masyarakat yang ingin berwisata air.
“Senjoyo itu sebenarnya potensinya bagus, tetapi tidak dikelola dengan baik. Semestinya pemerintah daerah melakukan pengelolaan secara maksimal. Sehingga masyarakat juga dapat merasakan hasilnya, dengan berjualan di sekitar lokasi wisata. Selain itu juga dapat menyerap tenaga kerja lokal,” kata Syarifudin, 39, warga Desa Bener, Kecamatan Tengaran, Selasa (10/6) kemarin.
Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Semarang, Asof , mengatakan, potensi Senjoyo luar biasa besar. Sumber air yang melimpah selama ini digunakan untuk PDAM Salatiga, Batalyon 411, dan Damatex. Sekalipun sumber airnya terus diambil, tetapi masih melimpah. Sehingga perlu pengembangan, sehingga lebih maksimal pemanfaatannya.
“Semestinya kalau dikelola akan lebih bagus, apalagi lokasinya strategis, dan dekat dengan arena pacuan kuda. Infrastruktur jalannya juga sudah bagus, jadi tinggal digarap saja,” kata Asof yang juga warga Kecamatan Tengaran.
Menurut Asof, pengembangan Senjoyo sebenarnya sudah pernah dianggarkan melalui APBD Kabupaten Semarang sebesar Rp 10 miliar pada 2007-2008. Anggaran tersebut diperuntukkan membangun wisata air seperti Owabong di Purbalingga. Pembangunan Senjoyo juga sudah pernah ditawarkan pada investor, tetapi gagal. “Desain yang dibuat sebenarnya sudah bagus, tetapi gagal. Banyak kendala waktu itu, yakni permasalahan tanah dan permintaan kompensasi dari dua desa yakni Bener dan Tegalwaton,” kata Asof. (tyo/aro)