Utang Bank dan Main Tarkam

322

Ketika Macan Tidar Terlilit Duit

PPSM Sakti Magelang makin serius terbelit masalah keuangan. Pihak manajemen kesulitan menggaji para pemain dan pelatih. Dua bulan, manajemen menunggak gaji pemain dan pelatih. Terakhir, muncul opsi untuk melego tim berjuluk Macan Tidar itu.

DUA bulan belum menerima gaji utuh, tentu sangat memberatkan bagi para pemain PPSM. Apalagi, mayoritas mereka bukan dari kalangan berada.
Jordi Kartiko, misalnya. Gelandang serang ini merasa sangat berat harus menanggung kebutuhan keluarganya; istri satu, anak dua. Sehari-hari, dia tinggal di Malang, Jawa Timur. Tepatnya, di wilayah kota. Kebutuhan hidup tentu tak murah untuk dipenuhi.
Apalagi, kini dia sudah tak muda lagi. Beda saat dia masih berjaya saat membela Persija Jakarta dan klub-klub elite di Indonesia lainnya. ”Saya menuntut manajemen untuk segera merealisasikan gaji para pemain. Kita selama ini sudah kesulitan,” kata dia, kemarin.
Jordi sendiri, kemarin, sudah berada di Malang. Berbekal uang bonus usai kemenangan Persip Pekalongan, dia pulang. ”(Pulang) Tak bawa apa-apa,” tutur ayah dua anak itu.
Bahkan, Jordi mengaku harus berutang bank untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. ”Ya utang bank Mas. Gak ada jalan lain,” ucapnya. Kebetulan, anaknya juga mau masuk ke SMP. Karena itu, ia butuh uang banyak untuk persiapan masuk SMP. ”Kita harapkan manajemen mau menepati janji.”
Hal yang sama dialami pemain PPSM lainnya, Heri Setiyawan.
Pemain belakang yang baru bergabung di paro kedua musim ini mengaku harus mencari penghasilan lain. Dia hanya lebih beruntung, karena masih bujang. Belum punya istri dan anak. Namun, sebagai anak muda, dia tak mau bergantung pada siapa pun. Termasuk, orang tua.
Jadi, di libur kompetisi yang panjang ini, mantan pasukan timnas U-19 itu, lebih memilih ikut bermain tarkam. Tepatnya, sepak bola antar-kampung. ”Kadang diajak main untuk kompetisi antar-kampung. Ya lumayan untuk menyambung napas,” akunya.
Sebagai pemain potensial, Heri menjadi andalan PPSM Sakti pada musim ini. Dia langsung mendapatkan kepercayaan mengawal lini belakang PPSM, bersama Rene Martinez.
Sejak bergabung dengan Macan Tidar— julukan PPSM— dia baru menerima gaji separo bulan. Padahal, sejak menandatangani kontrak, dia dijanjikan mendapatkan gaji lancar. ”Tidak tahu kok jadinya seperti ini. Teman-teman lain juga sudah pada ngeluh semua,” tambahnya.
Ahmad Ilyas, pemain inti PPSM Sakti lainnya, menyayangkan sikap manajemen yang terkesan acuh dengan nasib mereka saat ini. ”Kita sudah memberikan yang terbaik, tapi tidak mendapatkan hak-hak kami,” terang bek kiri PPSM itu.
Para pemain mengaku sepakat untuk tidak bermain di laga tandang berikutnya, jika gaji tidak segera direalisasikan. ”Kemarin, kita semua sudah sepakat untuk mogok sampai dipenuhi hak-hak kami.”
Menjadi sepak bola profesional di Indonesia, memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Termasuk, tak mendapatkan gaji. (mukhtar.lutfi/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.