Demi Mengemis, Patungan Sewa Bus Rp 10 Ribuan

424

Ketika Ratusan Gelandangan dan Pengemis Terjaring Razia Satpol PP

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1435 H, ratusan gelandangan dan pengemis (gepeng) membanjiri Kota Pekalongan sejak sepekan terakhir. Kondisi tersebut semakin meresahkan warga setempat. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

PARA gelandangan dan pengemis (gepeng) ini berkeliaran di beberapa sudut Kota Pekalongan. Khususnya, di Alun-Alun Kota Pekalongan dan pemberhentian lampu lalu lintas. Mereka kerap meminta zakat dan sumbangan, secara berkelompok atau bergerombol. Tidak hanya mendatangi dan meminta sumbangan di rumah-rumah warga, warung-warung di sepanjang jalan protokol Kota Pekalongan juga tak luput dari targetnya.
Setiap kali ada operasi penertiban yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Kota Pekalongan, mereka selalu kucing-kucingan dan berusaha bersembunyi. Namun pada Kamis (12/6) siang kemarin, mereka akhirnya tertangkap juga. Kendati diwarnai aksi kejar-kejaran dengan petugas.
Mereka disisir dari sejumlah titik, mulai dari jalur pantura di sepanjang ruas Jalan Gajah Mada, Jalan Hasanudin, Sultan Agung, Hayam Wuruk, serta tempat-tempat umum seperti Stasiun Besar Pekalongan dan pasar yang kerap dijadikan pangkalan para gelandangan.
“Para pengemis mulai pukul 07.00 pagi, sudah berada di pemberhentian lampu lalu lintas. Bahkan kerap hingga malam hari. Setiap hari, para pengemis selalu berganti orang, seperti sudah dijadwal,” kata Brigadir Irfan Yudi, petugas lalulintas di Perempatan Grogolan, Kota Pekalongan.
Warsani, 47, gepeng asal Kabupaten Pemalang yang tertangkap Satpol PP, mengaku menjadi pengemis hanya menjelang Ramadan saja. Bahkan dirinya datang bersama puluhan rekan satu desa dengan menyewa angkutan. Kemudian, mereka akan kembali dijemput saat malam hari tiba.
”Ada 26 orang yang datang dengan menyewa bus umum yang kecil, kemudian menyebar dan kumpul lagi di malam hari. Biasanya, kami membayar sewa angkutan Rp 10 ribu per orang,” kata Warsani.
Sedangkan dalam razia tersebut, petugas Satpol PP berhasil menangkap beberapa gepeng saat melakukan kegiatan mengemis di perempatan lampu lalulintas. Namun mereka sempat menolak dan memberontak untuk diangkut ke mobil patroli. Kendati begitu, petugas tetap membawa ke Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) di Kuripan Kidul, Kota Pekalongan untuk dibina oleh Dinas Sosial setempat.  
”Apabila tidak dipaksa, mereka tidak akan mau diangkut ke mobil patroli. Bahkan, mereka yang lebih dulu melihat ada operasi Satpol PP, langsung berlari dan bersembunyi menghindari kejaran petugas,” ungkap Kabid Penertiban Umum, Satpol PP Kota Pekalongan, Sudarno.
Selain mengamankan gepeng, kata Sudarno, Satpol PP juga menertibkan poster, baliho, reklame, dan spanduk iklan yang sudah habis masa izinnya. ”Hampir setiap hari, kami melakukan razia,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Pekalongan, Basyir Ahmad menegaskan bahwa sebagian besar gelandangan dan pengemis di Kota Pekalongan, adalah bukan warga Kota Pekalongan. Para gepeng tersebut, sengaja datang dari luar Kota Pekalongan. ”Makanya kami tegas terhadap para gepeng tersebut, agar tidak menimbulkan masalah sosial baru,” tegas Basyir. (*/ida)