Muncul Lagi, Enam Penderita Kaki Gajah

328

Sudah 3 Tahun Diobati Secara Masal

PEKALONGAN-Meski program pengobatan masal penyakit kaki gajah (filariasis) di Kota Pekalongan telah dilakukan sejak 3 tahun lalu, namun tak semuanya sembuh. Sebagian besar masyarakat tak patuh meminum obat sesuai petunjuk dokter. Akibatnya, saat ini kembali ditemukan 6 orang penderita baru.
Penderita filariasis baru itu ditemukan oleh petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan saat melakukan survei di Kelurahan Jenggot; Kertoharjo; Bumirejo, Kecamatan Pekalongan Selatan dan Kelurahan Klego, Kecamatan Pekalonga Utara.
Temuan tersebut sangat disesalkan Pemkot Pekalongan. Karena pemberian obat pencegahan (POMP) filariasis sudah dilakukan secara masal selama tiga tahun tanpa henti. ”Seharusnya temuan penderita baru penyakit kaki gajah ini tidak terjadi, jika warga patuh meminum obat pencegahan filariasis,” kata Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkes Kota Pekalongan, Tuti Widayanti, Kamis (13/6) siang kemarin.
Berdasarkan data Dinkes, katanya, tingkat kepatuhan warga untuk meminum obat pencegahan filariasis terus menurun. Tahun 2011 lalu, tingkat kepatuhan minum obat hanya 63,01 persen. Namun tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 2,12 persen atau hanya 60,89 persen. Dan pada tahun 2013 kemarin, kembali menurun di angka 55,88 persen.
Wali Kota Pekalongan, dr Basyir Ahmad merasa sangat prihatin dengan temuan baru tersebut. Harusnya warga mendukung program Pemkot Pekalongan dalam pencegahan filariasis yang memasuki tahun ke-4. “Pemkot sudah berusaha mencegah penyakit kaki gajah ini, namun hasilnya tidak menggembirakan. Karena itu, pemberian obat masal pencegahan filariasis pada 13 Juni besok, memasuki tahun ke-4. Karena itu, kami mohon warga patuh meminum obat tersebut,” tegas Basyir.
Sedangkan Kepala Dinkes Kota Pekalongan, dr Dwi Heri Wibawa menjelaskan bahwa agar obat pencegahan filariasis dipastikan diminum warga, maka warga harus meminum di depan petugas. “Ini untuk memastikan bahwa obat tersebut benar-benar diminum,” jelas dr Dwi Heri. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.