Terjun ke Kampung, Ajak Warga Buat Lubang Resapan

327

Tujuh Mahasiswa Teknologi Pendidikan Unnes Kampanye Biopori

Prihatin dengan kondisi lingkungan Kota Semarang yang kerap dilanda banjir dan berkurangnya air tanah, tujuh mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengampanyekan pembuatan lubang biopori. Mereka terjun ke kampung-kampung. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Sekaran

AIR adalah salah satu bagian terpenting di dalam kehidupan kita. Saat ini, sumber air terbesar yang dimanfaatkan oleh manusia berasal dari air tanah. Namun di wilayah perkotaan yang padat penduduk, kandungan air tanah sudah mulai berkurang. Hal ini disebabkan oleh semakin sempitnya lahan terbuka yang berfungsi sebagai peresapan air hujan. Banyak lahan produktif dan lahan hijau beralih fungsi menjadi perumahan, mal, perkantoran dan sebagainya.
Berkurangnya daerah peresapan ini, membuat air hujan langsung mengalir ke sungai, dan jika debitnya tinggi bisa meluap hingga menimbulkan banjir. Berawal dari itu, tujuh mahasiswa Unnes, yakni Emes, Taufik Noor, Damyke Salviana, Muh Rahal, Abinzar, Haniya, dan Anwar tergugah untuk ikut bertanggung jawab menyelamatkan lingkungan.
Mereka mengajak warga Perumahan Akasia RW II Kelurahan Sampangan, Gajahmungkur untuk menjaga kelestarian sumber air meski lewat langkah kecil, yakni dengan membuat sumur resapan atau lubang biopori di sekitar rumah. Ketujuh mahasiswa semester 6 Jurusan Teknologi Pendidikan ini juga menggandeng Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Semarang.
Emes menjelaskan, lubang resapan biopori akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang tersebut. ”Contohnya, bila lubang dibuat dengan diameter 10 sentimeter dan kedalaman 100 sentimeter (1 meter), maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3.140 sentimeter persegi atau hampir 1/3 meter persegi,” jelasnya.
Dengan kata lain, suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 sentimeter, yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 sentimeter persegi, setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 sentimeter, luas bidang resapannya menjadi 3.218 sentimeter persegi.
Emes mengatakan, dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan, maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. ”Karena itu, bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air,” kata Emes.
Dengan demikian, menurutnya, kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air. Biopori sendiri adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah, seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi, air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
”Biopori dapat dibuat di halaman depan, halaman belakang atau di taman. Lubang biopori sendiri umumnya dibuat dengan lebar kira-kira 10 sentimeter, jarak antar lubang sekitar 50-100 sentimeter,” kata Emes.
Sembari duduk santai, mereka menjelaskan fungsi dan cara pembuatan dari biopori itu sendiri. Biopori atau lubang resapan digunakan untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Hal ini perlu mengingat semakin sedikitnya lahan terbuka yang ada saat ini, sehingga berdampak pada bencana banjir yang melanda di beberapa wilayah.
”Kita dapat membuat sendiri lubang biopori dengan membuat lubang seperti halnya membuat sumur bor. Lubang resapan ini dapat membantu resapan air (khususnya air hujan) ke dalam tanah dan meningkatkan kesuburan tanah,” jelas Anwar.
Pembuatan biopori itu sendiri juga tidak sulit. ”Hanya menyiapkan alat bor, pasir, semen, dan linggis,” jelas Damyke.
Dikatakan, keberadaan lubang biopori juga dapat mencegah banjir. Sebab, bila setiap rumah, kantor atau setiap bangunan di Semarang memiliki biopori, berarti jumlah air yang masuk ke tanah akan banyak pula. ”Tentu ini dapat mencegah terjadinya banjir,” imbuh Anwar.
Banyaknya sampah yang menumpuk telah menjadi masalah tersendiri di Kota Semarang. Untuk membantu mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), kata dia, warga bisa memisahkan sampah rumah tangga yang organik dan nonorganik. ”Nah, untuk sampah organik dapat dimasukkan ke lubang biopori yang kita buat,” sahut Haniya.
Menurutnya, sampah organik yang dibuang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya. ”Nanti kompos dalam biopori bisa kita ambil buat memupuk tanaman,” tutur Anwar.
Dengan adanya biopori, menurut Anwar, kualitas tanah juga akan meningkat. Sebab, organisme dalam tanah mampu membuat sampah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. ”Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral,” tandasnya.
Ketujuh mahasiswa Unnes tersebut berharap pemkot juga mengampanyekan pembuatan biopori di masyarakat. Dengan begitu, diharapkan Semarang bisa terbebas dari banjir serta tanah longsor. ”Semoga banjir di Semarang Utara, dan longsor di Kampung Trangkil Baru beberapa waktu lalu tidak terulang lagi,” harapnya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.