Mendekatkan Budaya Jawa ke Anak Muda

3825



Sudah menjadi rahasia umum jika kebudayaan Jawa sedikit banyak lepas dari masyarakat Jawa sendiri, terutama di kalangan anak muda. Dari keresahan tersebut, kegiatan dengan tema “nguri-uri” kebudayaan Jawa bermunculan. Termasuk di Kota Semarang. Upaya mendekatkan kebudayaan Jawa di kalangan anak muda juga dilakukan.
Namanya Rebo Legen Gaul. Dua kali kegiatan tersebut digelar dalam jangka waktu dua bulan. Yakni Mei dan Juni 2014. Salah satu penggagas, Babahe Widyo Leksono memaparkan, kegiatan tersebut sebenarnya sudah dilakukan secara rutin sejak tahun 1997. Dibentuk saat sanggar seni Paramesthi masih aktif. “Paramesthi awalnya adalah sanggar tari. Setelah menjadi sanggar seni, bukan hanya tari, sekitar 20 orang menggagas acara Rebo Legenan,” kata Babahe.
Orang yang mengawali adalah Padmo Sardjono (almarhum) atau biasa disapa Mbah Djon yang juga seniman tari. Tiap hari Selasa malam Rabu Legi, dia rutin mengadakan kegiatan budaya Jawa. “Ada diskusi, macapat, geguritan, dan banyak lagi. Semua yang berhubungan dengan budaya Jawa. Dari situ, kegiatan tersebut kami bawa ke acara rutin di Sanggar Seni Paramesthi,” terangnya.
Sampai akhirnya, para anggota Sanggar Seni Paramesthi banyak yang hijrah ke luar Semarang, Rebo Legenan tersebut sempat terhenti. “Pada tahun 2012, kerinduan kami (anggota Paramesthi,) memuncak. Kami membuat roadshow kegiatan Rebo Legenan di Jateng. Terutama dimana anggota Paramesthi tinggal,” tuturnya.
Tahun berikutnya, 2013, kegiatan ini kembali vakum. Akhirnya, di tahun 2014, melalui Babahe dan anak-anak muda yang ingin mendekatkan diri dengan budaya Jawa menghelat kegiatan Rebo Legenan. Disinilah muncul ide untuk menambahi kata “Gaul” di kegiatan tersebut. “Kata itu masih dekat di anak muda. Lebih-lebih menjadi tren. Jadi ditambah, dengan harapan mendapat antusias di kalangan anak muda,” ungkapnya.
Rebo Legenan Gaul digelar tak lama ini, Selasa (10/6). Bertempat di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), tepatnya di bawah pohon Beringin. Disorot beberapa lampu, kesan angker pun hilang, berubah menjadi keindahan karya seni. “Koordinator pelaksananya dari anak muda. Namanya Bayu,” paparnya.
Tidak hanya itu, kegiatan yang dibarengkan dengan peluncuran buku kumpulan drama bahasa Jawa karya Catur Widya Pragola Pati, tersebut juga menghadirkan “Java Dramatic Reading” atau pembacaan naskah drama Jawa. Uniknya pembacanya dari kalangan anak muda dan bukan dari penggiat seni drama. “Pembacanya dari komunitas Angger Nggon. Di dalamnya dari berbagai penggiat bermacam seni. Kebanyakan seni musik,” katanya.
Rebo Legen Gaul ke depannya direncanakan dilakukan rutin setiap bulan sekali. Diungkapkan Babahe, inspirasi ini dari kegiatan ini adalah, “Piye nek boso jowo ora digawe angel. Ora kikuk lan ora wedi salah ngomong boso jowo.” (ris/jpnn/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.