Badai Menerpa Jelang PON Jabar

345

KONTINGEN olahraga Jawa Tengah tampaknya harus berpikir ekstrakeras untuk bisa meraih hasil terbaik di ajang multievent empat tahunan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jabar 2016 mendatang. Maklum saja, beberapa persoalan kini menimpa dunia olahraga Jateng. Yang paling krusial, saat ini tercatat ada 23 atlet papan atas Jateng mengajukan mutasi (pindah) ke provinsi lain jelang perhelatan PON Jabar 2016.
Dari sederet nama atlet yang mengajukan mutasi, jelas Jateng bakal kehilangan peluang meraih medali emas di Jabar mendatang. Yang sudah pasti, di cabor atletik Jateng bakal kehilangan medali dari pelari jarak jauh putra mereka, Agus Prayogo yang saat ini sudah resmi mutasi ke Jabar.
Pada PON Riau 2012, Jateng berhasil menempati peringkat keempat dengan raihan 47 medali emas, 52 medali perak, dan 69 medali perunggu. Dan di ajang itu Agus berhasil menyumbang 2 medali emas untuk Jateng yaitu melalui nomor lari 5.000 dan 10.000 meter.
Masih dari cabor atletik, selain Agus Jateng juga telah resmi kehilangan atlet lempar lembing mereka, Dian Kartika yang juga berganti kostum Jabar. Namun dari sisi potensi, nama Dian memang tidak tercatat sebagai salah satu penyumbang medali emas di PON Riau lalu.
Namun yang kini juga membuat atletik Jateng waswas adalah kepindahan pelari jarak jauh lain mereka di kelompok putri yaitu Triyaningsih. Pelari nasional langganan SEA Games tersebut saat ini telah resmi mengajukan mutasi ke DKI Jakarta. Jika Triyaningsih pasti hengkang dari Jateng, tentu hal itu akan menjadi pukulan lain bagi dunia atletik Jateng. Sebab dalam tiga PON terakhir pelari kelahiran Semarang, 15 Mei 1987 itu mampu menyumbang emas untuk kontingen Jateng.
Dari cabor lain yaitu menembak Jateng juga terancam kehilangan dua atlet potensi emas mereka yaitu Maxima Rizado dan Erric Angga Ardiansyah yang juga ingin hengkang ke tuan rumah PON 2016, Jabar. Di Riau, Rizado yang akrab disapa Dodo merebut emas di nomor air rifle 10 m beregu putri bersama Shilla Prasasti dan Dinnie AW, sedangkan Erric membuat kejutan dengan merengkuh emas di air rifle 10 m perseorangan junior putra.
Kemudian di cabor bridge, Kristina Wahyu dan Suci Amita Dewi, pasangan peraih
medali emas pada PON 2012 dan SEA Games 2013 itu juga mengajukan mutasi ke DKI Jakarta dengan alasan sudah bekerja di provinsi tersebut. Kemudian, ada pebiliar Muhamad Zulfikri, peraih emas PON 2012, yang mengajukan mutasi ke Jabar karena bekerja di Bogor. Namun demikian, POBSI Jateng sebagai induk organisasi biliar tidak memberi rekomendasi.
”Apalagi rencananya di PON nanti tidak ada pembatasan usia, mengikuti IOC (International Olympic Committee). Tentunya KONI Jateng sangat khawatir dengan kondisi seperti ini,” kata Plt Ketua Umum KONI Jateng, Hartono.
Namun di satu sisi, selain KONI Jateng yang masih terus ’nggondeli’ atlet-atlet yang mengajukan mutasi, masing-masing induk organisasi cabor di Jateng juga tengah mati-matian mempertahankan mereka untuk urung berganti provinsi.
Kabid Target Perbakin Jateng Rudy Dwi Tjahyanto mengatakan, saat ini Perbakin Jateng juga masih terus mempertahankan dua atlet mereka Rizado dan Erric. Bahkan masih masuk dalam daftar atlet pelatda dan diproyeksikan bisa merebut medali emas di PON 2016 di Jabar.
”’Keduanya masih kami proyeksikan bisa tampil di PON. Bahkan lebih dari itu, mereka kami gadang-gadang untuk kembali memberikan medali emas seperti PON 2012 lalu di Riau. Dan sikap Perbakin tegas, tak memberikan rekomendasi. Apalagi, KONI Jateng juga meminta agar para atlet potensial untuk sebisa mungkin di-gondeli,”’ ujarnya.
Wakil Ketua III POBSI Jateng Buntat mengatakan, pengajuan pengunduran atlet-atlet Jateng menurutnya terkait dengan upaya Jabar menarik atlet potensial dari daerah lain untuk mendongkrak perolehan medali emas di PON mengingat mereka akan bertindak sebagai tuan rumah.
Namun Buntat juga menegaskan, POBSI Jateng menjamin atlet mereka tidak
akan pindah dengan cara tidak mengeluarkan surat rekomendasi sesuai dengan kebijakan KONI Jateng yang tidak akan melepaskan atlet mereka untuk berganti Provinsi.
”Semua mengajukan pengunduran diri dari Jateng. Namun sesuai dengan kebijakan KONI bahwa tidak ada satu atlet pun yang akan dilepas, kami juga tidak akan mengeluarkan surat rekomendasi pindah kepada mereka,” kata Buntat.
Kabid Umum dan Kesejahteraan Pelaku Olahraga KONI Jateng Iik Suryati Azizah mengakui, KONI dalam posisi dilematis ketika menghadapi mutasi atlet Jateng ke provinsi lain. Pasalnya, KONI tak memiliki daya tawar untuk menahan mereka.
”Pada satu sisi kami ingin mempertahankan mereka, agar tetap bertahan dan memiliki loyalitas kepada Jateng. Tapi sisi lain, apa yang bisa kami berikan kepada mereka? Kami memang menghadapi dilema ketika harus berjuang untuk mempertahankan mereka. Ibarat kata, mau nggondeli, tapi tanpa amunisi,”’ kata Iik. (bas/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.