Membuatnya Susah, Hasilnya Dihargai Sangat Murah

620

Turunnya Perajin Gerabah dari 326, Tinggal 30-an Perajin

Lima tahun lalu, setiap menjelang Ramadan, suasana Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan selalu ramai didatangi pedagang gerabah dari luar kota. Namun kini, sebaliknya. Para perajin gerabah terancam punah. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Kajen

GENERASI muda sekarang, tak lagi tertarik membuat kerajinan gerabah, lantaran penghasilannya dianggap tidak menjanjikan. Kalaupun mau bekerja, mereka lebih memilih buruh menjahit pada perusahaan konveksi, yang tersebar di desa tersebut. Akibatnya, dari 326 perajin gerabah yang pernah eksis pada tahun 2005 lalu, kini tinggal 30-an perajin yang masih bertahan.
“Anak sekarang tidak ada yang mau belajar membuat kerajinan gerabah, karena dianggap tidak ada uangnya. Selain upahnya terlalu murah, kalaupun sudah jadi juga sulit dijual,” kata Musaroh, 45, perajin gerabah warga Desa Wonorejo RT 11 RW 04, Kecamatan Wonopringgo, Minggu (15/6) siang kemarin.
Hal senada disampaikan, Umu Afiyah, 42, warga Desa Wonorejo RT 11 RW 04, Kecamatan Wonopringgo. Perajin gerabah yang membuat tempat uang (celengan, red) ini mengatakan bahwa banyak perajin gerabah di Desa Wonorejo beralih profesi, karena tidak lagi menjanjikan.
”Sekarang siapa yang mau membuat kerajinan ini, kalau per 100 celengan hanya dibayar Rp 40 ribu. Satu celengan, harganya tidak sampai Rp 1000, terlalu murah,” kata Umu Afiyah yang membuat kerajinan celengan sejak usia 12 tahun.
Demikian juga dengan Nok Isah, 55, warga Desa Wonorejo RT 17 RW 06, Kecamatan Wonopringgo. Membuat kerajinan piring dari tanah liat (lemper, red), hanya untuk mengisi waktu luang saja dan meneruskan usaha turun temurun.
”Saya membuat piring tanah liat seperti ini, saya kerjakan sambil memasak di dapur, daripada tidak ada kerjaan. Lumayan untuk buat beli sirih,” ucap Nok Isak, yang menjual piring tanah liatnya Rp 10 ribu per 50 piring.
Pengepul kerajinan gerabah, Musholih, 32, warga Desa Wonorejo RT 13 RW 04, mengaku sejak tahun 2005 sulit sekali menjual hasil kerajinan gerabah, karena produknya kalah bersaing dengan produk sejenis yang terbuat dari plastik.
”Sejak ada produk sejenis dari plastik, sulit menjual kerajinan gerabah seperti piring, tempat minum dan lainnya. Tetapi menjelang puasa dan setelah Lebaran, serta saat ada orang punya hajat, masih banyak yang mencari kerajinan gerabah terutama piring,” jelas Musholih yang hanya memasarkan produknya di Batang, Kota Pekalongan dan Tegal.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil Menengah, Kabupaten Pekalongan, Ali Reza, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan kajian potensi pedagang menengah, untuk memberikan bantuan berupa promosi perdagangan dan pelatihan manajemen. Menurutnya, untuk meningkatkan daya beli produk kerajinan tangan, para pengrajin di Desa Wonorejo perlu mengikuti pelatihan manajemen.
”Pelatihan manajemen yang kami maksud adalah bagaimana sebuah produk bisa memiliki nilai lebih, seperti kerajinan gerabah di Desa Wonorejo. Karena itu, perajin akan kami ikutkan pelatihan pada perajin serupa di Jogjakarta yang harganya bisa lebih baik jika dibandingkan di Desa Wonorejo,” tegas Ali Reza. (*/ida)