NU Amankan Kursi Menteri Agama

340

Ada di Dua Kubu

TANAH MAS–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tak mempungkiri hendak mengamankan kursi Menteri Agama pada pemerintahan mendatang. Itulah sebabnya, para tokoh NU memberikan dukungan ke pasangan capres yang berlainan.
Capres Prabowo Subianto bahkan telah membuat kontrak dengan Mahfud MD dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang menyatakan jika menang, Prabowo berjanji akan menempatkan orang NU menjadi Menteri Agama.
Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta yang juga Wakil Sekjen PBNU KH Masduki Baidlowi. “Ada komitmen hitam di atas putih dengan Prabowo tentang Menteri Agama dari NU. Jadi tidak benar jika diisukan Menteri Agama akan diambil dari Wahabi karena disitu ada PKS dan PAN,” ujarnya di sela Deklarasi Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jateng untuk Prabowo-Hatta di Restoran Semarang Island, Sabtu (14/6).
Menurutnya, Mahfud MD dan Said Aqil Siradj merapat ke kubu Prabowo untuk menyelamatkan kepentingan NU. Terutama terkait dakwah, dan eksistensi ajaran ahlusunnah wal jamaah.
Meski begitu, dia membantah NU terpecah belah pada Pilpres kali ini. Sebaliknya hal tersebut menunjukkan gambaran demokrasi yang sesungguhnya. Hal itu, lanjutnya, justru bagus untuk kepentingan NU, siapapun yang menjadi Presiden nanti. “Ada adagium, jangan menaruh telur di satu keranjang. Inilah berdemokrasi. Saya dengan Pak Asad Said Ali (Wakil Ketua Umum PBNU) yang mendukung Jokowi juga berbeda tapi sering ngopi bersama,” tandasnya.
Namun Masduki mengaku tidak tahu apakah tokoh NU di kubu Jokowi telah mendapat kepastian serupa soal menteri agama. “Saya tidak tahu bagaimana di sana, karena mereka tidak pernah mau mengaku. Padahal namanya politik, saat deal dukungan diberikan pasti ada yang ditawarkan. Itu bukan tabu lagi, asal caranya bermoral,” ungkapnya.
Di sisi lain, menurut Masduki, Indonesia membutuhkan pemimpin yang menjadi dalang, bukan wayang. “Maka kita lebih memilih Prabowo yang memiliki komitmen terhadap kemandirian Nasional,” katanya.
Pihaknya sendiri memilih Prabowo karena menginginkan pemimpin yang mengendalikan, bukan dikendalikan. Serta pemimpin yang menjadi dalang, bukan menjadi wayang.
Sementara itu, IKA GP Ansor didirikan oleh mantan pengurus dan anggota GP Ansor Jateng. Jika GP Ansor mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla, IKA mendukung Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.
Ketua IKA GP Ansor Mufid Rahmad mengatakan, ikatan alumni ini baru ada di Jateng. Organisasi ini tidak mempunyai garis hierarki dengan NU maupun GP Ansor namun bisa bersinergi. Dia menampik mendirikan IKA hanya untuk gelaran Pilpres.
Mufid menjelaskan, langkah politik IKA GP Ansor dimaksudkan sebagai jawaban atas klaim bahwa seluruh warga NU telah mendukung Jokowi-JK. “Kami sebagai penyeimbang. Tidak semua NU ke Jokowi,” tegasnya.
IKA memilih Prabowo karena karakter mantan Danjen Kopassus itu jujur dan tanpa pencitraan. “Kejujurannya itu apa adanya. Punya Alphard ya naik Alphard, bukan naik andong. Punya helikopter, punya kuda ya naik itu. Itu bukan pencitraan,” jelasnya. (ric/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.