Tersangka Penipu Rp 100,3 M Ditangkap

730

Kasus Investasi Seragam Batik

BARUSARI – Setelah sempat buron selama berbulan-bulan, terlapor kasus investasi bodong seragam batik SD-SMA di Kota Semarang akhirnya berhasil ditangkap Satreskrim Polrestabes Semarang. Mereka adalah pasangan suami-istri Arista Kurniasari dan Onang, warga Jalan Sri Wibowo Dalam XII/251 RT 8 RW 5, Kembangarum, Semarang Barat. Arista merupakan seorang guru di SD Ngemplak Simongan 1 Semarang.
Keduanya langsung ditetapkan tersangka dan ditahan di Mapolrestabes Semarang setelah menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polrestabes Semarang, Sabtu (14/6). Dalam kasus ini, total kerugian diperkirakan mencapai Rp 100,3 miliar.

Arista terus berkilah dan mengaku tidak melakukan aksi penipuan investasi batik tersebut. Selama ini ia mengklaim hanya berbisnis jualan batik dan alat tulis kantor (ATK) yang sudah dijalani sejak 2009 silam. Untuk melancarkan bisnisnya ia menggandeng sejumlah investor sebagai penanam modal. ”Saya hanya berjualan, tidak melakukan penipuan,” kilahnya.

Ia mengaku kenal dengan Nurjannah yang awalnya merupakan kepala SD Simongan 1 Semarang. Belakangan diketahui CV Cahaya Mulia Semarang milik Nurjannah digunakan untuk mencari investor. Tersangka diduga sempat memalsukan sejumlah dokumen dan menggunakan surat perjanjian kerja (kontrak kerja) pengadaan ATK Dinas Pendidikan. ”Saya memang kenal dengan Bu Nurjannah. Yang cari modal ada yang lain,” imbuhnya singkat.

Kepala Polrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono mengatakan, pasangan suami istri ini ditangkap karena banyak laporan penipuan dari masyarakat yang masuk. Modusnya dengan menjanjikan keuntungan besar dari berbisnis investasi batik dan ATK. ”Mereka langsung kami tahan. Sudah melakukan aksi penipuan sejak 2009 silam,” katanya.

Pasutri ini menjalankan bisnis di sejumlah kota di Jawa Tengah. Mulai dari Subang, Jogjakarta, Semarang dan Balikpapan. Modusnya dengan mencari investor untuk bisnis batik seragam sekolah. ”Jalannya mulus, karena menggunakan CV dan surat kerja dari Dinas Pendidikan Kota Semarang,” tambahnya.

Hengki, warga Kalipancur, Ngaliyan, mengaku tertarik investasi sejak 2009 silam. Saat itu sang istri didatangi Arista dan diajak untuk berinvestasi di bidang batik seragam SD-SMA di Kota Atlas. ”Omongannya pakai bahasa-bahasa Islami dan sangat meyakinkan,” akunya.

Hengki dan istri akhirnya mulai tergiur, karena dijanjikan bunga 9 persen setiap bulan dari modal. Dengan keyakinan kuat, akhirnya ia menyetorkan modal awal Rp 410 juta pada 2013. Awalnya, ia masih sempat mendapatkan keuntungan dari bisnis investasi, tapi hanya berjalan 10 bulan. Saat seret, ia mencoba menagih, namun tersangka justru terus berkelit dan menghilang. ”Saya hanya berharap agar uang modal bisa kembali.

Arista dan Onang saat ini masih mendekam di balik jeruji besi Mapolrestabes Semarang. Mereka bisa dijerat pasal 3, 4 dan 5, UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang (TPPU) dengan ancaman 20 tahun dan denda Rp 10 miliar. (fth/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.