Suami Melaut Tak Lagi Pulang, Kini Hidup Seadanya

436

Menyusuri Kampung Janda di Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan

Kota Pekalongan tidak hanya terkenal dengan batik dan hasil ikan yang melimpah. Namun di sepanjang pesisir Kota Pekalongan, dikenal pula yang namanya Kampung Janda. Yakni, kampung yang mayoritas dihuni kaum perempuan yang ditinggal suaminya saat melaut. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

KAMPUNG janda sudah dikenal sejak 10 tahun terakhir. Kampung ini, terletak di Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara. Hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai laut Jawa, tepatnya berada di RT 04 RW 09 dengan 112 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar kehidupannya tergantung pada laut. Saat ini, dari 112 KK, 83 KK di antaranya adalah perempuan dengan status janda karena ditinggal suaminya pergi melaut dan tidak pernah pulang hingga kini.
”Karena jumlah perempuannya lebih banyak dibandingkan pria, maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Kampung Janda,” kata Ketua RT 04 RW 09, Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Kristina, Senin (16/6) kemarin.
Kristina pun berkisah bahwa para nelayan di wilayahnya sangat pemberani. Hanya dengan perahu kecil dan peralatan seadanya, para nelayan memberanikan diri mencari ikan hingga pulau Kalimantan. Sedangkan kaum perempuannya bekerja sebagai buruh jemur ikan asin atau buruh potong ikan di perusahaan pengalengan ikan.
”Namun sepanjang tahun 2000-an, banyak nelayan yang meninggal di laut dan tidak pernah pulang lagi ke kampung ini,” jelas Kristina.
Yang kerap menyedihkan, kata Kristina, kabar meninggalnya para nelayan itu, diperoleh dari rekan sesama nelayan sekampung. Kendati ada juga, para nelayan yang tidak lagi pulang ke kampung, karena bekerja dan menetap di Kalimantan, kemudian memulai kehidupan baru disana dan menceraikan istrinya di Pekalongan. “Hingga saat ini, masih banyak wanita yang masih menunggu suaminya pulang, meski sudah lebih dari 10 tahun ditinggal melaut,” kata Kristina.
Duriyah, 57, janda dengan 3 anak, warga Kelurahan Panjang Baru RT 04 RW 09, Kecamatan Pekalongan Utara, mengaku ditinggal suaminya melaut sejak tahun 2001 dan hingga kini belum pernah kembali.
Sebelumnya, kata Duriyah, suaminya bernama Sutejo, ketika pergi melaut selalu rutin pulang 3 bulan sekali. Namun sejak Mei 2001 hingga sekarang, suaminya tidak pernah memberikan kabar.
”Kata para tetangga dan rekan-rekannya, suami saya meninggal di perairan Karimunjawa, karena ombak besar. Tapi saya tetap berharap, suami saya pulang dan tidak meninggal,” harap Duriyah yang bekerja sebagai buruh cuci keliling.
Sementara itu, Kepala Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Lilik Murdiyanto, menolak keras sebutan Kampung Janda di RT 04 RW 09. Kendati, sebagian besar warga Kota Pekalongan menyebutnya sebagai Kampung Janda. Karena sebutan tersebut, terasa sangat tidak etis.
”Saya selalu menolak sebutan Kampung Janda. Namun saya akui jika jumlah wanita dengan status janda di RT 04 RW 09 lebih banyak, dibandingkan RT lainnya. Demikian juga jumlah perempuannya, memang lebih banyak dibanding jumlah prianya,” tegas Lilik. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.