Para Janda Tak Dapat BLSM, Nyaris Bakar Rumah Ketua RT

366

Menyusuri Kampung Janda di Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan (3)

Masih teringat jelas dalam benak warga RT 04 RW 09, Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, yang terkenal dengan nama Kampung Janda. Juli tahun lalu, puluhan janda menggeruduk ke rumahnya, dengan membawa sebotol bensin. Mereka hendak membakar rumahnya, karena tidak mendapatkan Bantuan Langsung Sementara Masyarat (BLSM). Bagaimana ceritanya?

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

KEMARAHAN warga di Kampung Janda, bermula dari juragan becak selaku warga paling mampu di antara 112 Kepala Keluarga (KK). Sang juragan justru mendapatkan Kartu BLSM, sementara 84 KK yang berstatus janda, tidak mendapatkan bantuan apapun, baik jatah beras miskin (Raskin) maupun BLSM.
“Waktu itu, warga benar-benar sangat marah, setelah mengetahui juragan becak yang bernama Sudrajat, justru mendapatkan BLSM,” tutur warga setempat, Wahyuni.
Warga juga merasa curiga dengan ketua RT, Kristina, yang rumahnya tepat di depan rumah juragan becak. ”Warga yang menggeruduk rumahnya Bu RT, jumlahnya puluhan. Sebagian ada yang membawa bensin, untuk membakar rumah ketua RT. Hanya untuk menanyakan kenapa tidak dapat BLSM, sementara juragan becak yang kaya justru dapat BLSM,” ungkap Wahyuni.
Sebelum kasus juragan becak itu, sebenarnya warga tidak mempermasalahkan tidak mendapatkan raskin. Karena ada kewajiban harus menebus beras tersebut di kantor kelurahan. Sementara harganya tidak terlalu beda jauh dengan harga beras murah lainnya. Sedangkan, uang juga tidak selalu ada di tangan.
”Kalau tidak mendapatkan jatah raskin, warga masih maklum. Tapi BLSM ini kan bantuan berupa uang tunai, sehingga menimbulkan kecemburuan. Karena, yang kaya semakin kaya,” ujar Wahyuni, ibu tiga anak yang rumahnya bersebelahan dengan juragan becak.
Ketua RT 04 RW 09, Kristina, mengaku pasrah mengingat kejadian saat itu. Dirinya tidak lari, saat puluhan warga datang dengan kemarahan memuncak, sambil berteriak mengancam ingin membakar rumahnya, karena tidak mendapatkan bantuan BLSM.
”Saya tidak takut. Bahkan saya mempersilahkan warga membakar rumah saya, kalau saya terbukti mengorupsi BLSM. Karena, hanya 2 orang yang mendapatkan BLSM di Kampung Janda ini,” kata Kristina, Rabu (18/6) kemarin.
Namun dia bersyukur, akhirnya warga bisa menerima penjelasannya. Setelah Kepala Kelurahan Panjang Baru membantu menerangkan, bahwa BLSM bukan usulan dari RT setempat. Menurutnya, yang menjadi persoalan saat ini, juragan becak penerima BLSM, menjadi sindirin dan kecemburuan sosial warga di lingkungan Kampung Janda.
”Saya sudah sering mengusulkan bantuan, mulai dari Raskin, bantunan santunan anak yatim, hingga bantuan bedah rumah. Namun hingga kini belum ada respon dari Pemkot Pekalongan,” jelas Kristina.
Kepala Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara, Lilik Widaryanto, ketika dikonfirmasi di kantor kelurahan, mengenai minimnya bantuan di Kampung Janda, tidak bisa menjelaskan. Dia beralasan, baru 2 tahun menjabat di Kelurahan Panjang Baru, Kecamatan Pekalongan Utara.
”Saya baru menjabat 2 tahun, jadi tidak tahu menahu soal bantuan, khususnya untuk warga RT 04 RW 09, Kelurahan Panjang Baru. Soal bantuan adalah kebijakan dari kepala kelurahan sebelumnya,” tegas Lilik.
Sementara itu, Kepala Plt Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kota Pekalongan, Pontjo Wahyudi, menandaskan bahwa adanya bantuan warga di suatu kelurahan, berdasarkan usulan dan rembug warga. Makanya, selama tidak ada usulan tersebut, warga tidak akan pernah mendapatkan bantuan.
”Selama ini belum pernah ada usulan dari warga RT 04 RW 09, Kelurahan Panjang Baru. Apa lagi warga dari Kampung Janda yang diajukan ke Dinas Sosial,” tandas Budiyanto yang berjanji meninjau lokasi Kampung Janda tersebut. (*/ida/habis)