Semarang Miliki Pabrik Resin

1543

SEMARANG – PT Intanwijaya Intenasional Tbk, sebuah perusahaan yang memproduksi formalin dan resin (lem plywood) telah menyelesaikan pembangunan pabriknya di Kawasan Industri Terboyo, Semarang. Pabrik tersebut merupakan ekspansi pabrik sebelumnya di Banjarmasin, Kalsel.
Pabrik seluas 1,3 hektare dengan nilai investasi awal mencapai Rp 40 miliar (dengan mesin produksi serta peralatan yang direlokasi dari pabrik sebelumnya di Banjarmasin), direncanakan memulai ujicoba produksi Agustus mendatang, dan produksi komersial diperkirakan Oktober yang akan datang..
Komisari PT Intanwijaya Internasional Tbk Trenggono Nugroho mengatakan, ekspansi dan relokasi dari Banjarmasin ke Semarang disebabkan beberapa hal. Di antaranya menyusutnya perusahaan plywood di Kalsel, di mana dari 6 perusahaan saat ini tinggal satu perusahaan saja yang aktif berproduksi, sehingga pasar untuk resin yang diproduksinya juga menipis. “Di Kalimantan banyak perusahaan plywood yang tutup karena kekurangan bahan baku yakni kayu di mana hutan semakin habis, ditambah ketatnya aturan pemerintah untuk penggunaan kayu hutan. Sehingga resin juga kehabisan pangsa pasar,” ujarnya, setelah RUPS yang digelar di Hotel Gumaya Semarang, kemarin.
Karena itulah, diputuskan untuk melakukan relokasi ke Semarang, karena di Jawa masih banyak perusahaan plywood baik skala besar maupun kecil dan particle board sebagai bahan baku furniture. Dengan dibangun di Semarang, maka jalur distribusi untuk pengiriman hasil produksi serta bahan baku akan semakin murah, apalagi Semarang terletak di tengah pulau Jawa.
Sementara Direktur Utama PT Intanwijaya International Tbk Recsonlye Sitorus menjelaskan, bahwa pabrik di Semarang nanti akan memproduksi urea formaldehyde resin (resin cair), melamine formaldehyde resin, formalin (bahan baku resin), serta urea formaldehyde powder (resin bubuk), dengan kapasitas produksi total 19.200 ton per tahun. Resin atau lem plywood yang diproduksi nanti akan diberi merek ‘One Step’, yang diklaim sebagai lem plywood atau lem kayu terkuat saat ini.
Untuk penyerapan tenaga kerja, diakui memang tidak begitu signifikan. Produksi lebih banyak menggunakan mesin atau padat karya, sehingga tenaga kerja yang terserap untuk pabrik di Semarang diperkirakan hanya 100 orang. “Untuk produksi awal resin, memang belum banyak yakni sekitar 4.000 matriks ton per bulan, dari kebutuhan resin di Indonesia sebanyak kurang lebih 200 ribu matriks ton per bulan. Tapi ke depan kita akan terus menambah kapasitas produksi, untuk memenuhi kebutuhan resin di Indonesia,” tegasnya. (smu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.