Minat Mahasiswa Memilih Rendah

285

WONOSOBO –  Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Jawa Tengah, mempunyai kebiasaan melakukan pemilihan umum dalam menentukan ketua organisasi mahasiswa itu. Namun tahun ini, minat mahasiswa menggunakan hak suaranya tampak rendah. Hal itu terlihat saat pemilihan presiden BEM kemarin, sepi.
Menurut Ketua BEM Unsiq Achmad Faiyun, pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden BEM itu, dilakukan dengan beberapa tahapan. Meliputi proses verifikasi partai politik mahasiswa berlangsung pada 30 Mei- 4 Juni, pendaftaran calon presiden beserta wakilnya, penetapan no urutnya dan para gubernur fakultas pada 5 Juni.
Dikatakan, setelah ada nama calon yang mendaftar, KPU mahasiswa mengumpumkan kepada warga kampus, kemudian diadakan kampanye dari 10-16 Juli. Debat kandidat yang dilaksanakan 17 Juni, 18 Juni kemudian memasuki masa tenang selama dua hari. “Hari ini (kemarin) tahap pencoblosan dan pemungutan suara berlangsung,”katanya.
Faiyun mengatakan, dalam pemilihan tersebut ada dua pasangan kandidat. Yakni no urut 1 Rudi Susanto – Kharisul Ngilmi dan pasangan no urut 2 M Mukodam – Faisal. Selain itu, juga dilakukan pemilihan gubernur fakultas di antaranya Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dakwah atau Komsospol, Fakultas Ekonomi, serta Fakultas Bahasa dan Sastra. “Pemilihan ini dilakukan secara serentak,” ujarnya.
Selama proses penyelenggaraan pemilu ini, dia menilai respons mahasiswa kurang antusias. Hal ini terlihat dari proses pemungutan suara, tidak banyak mahasiswa yang hadir untuk menggunakan hak suaranya.
“Antusiasme mahasiswa dalam merespons kegiatan kegiatan politik mahasiswa kian menurun,” ungkapnya.
Faiyun mengatakan, kurangnya mahasiswa dalam merespons kegiatan pemilihan ini dikarenakan berbarengan dengan masa libur semester. Sehingga banyak mahasiswa yang memilih pulang kampung. Di sisi lain, juga mahasiswa tidak merespons kegiatan politik kampus bagian dari wahana latihan dalam kehidupan berbangsa.
“Pemilu mahasiswa dan kampus adalah bagian dari miniatur Negara. Merosotnya kepedulian politik mahasiswa adalah bagian dari kemunduran. Bila mahasiswa saja tak peduli dengan urusan urusan politik kampus, bahkan bangsanya lalu bagaimana dengan masyarakat secara umum tangkasnya,”pungkasnya. (ali/lis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.