Sunan Kuning Tolak PSK Dolly

358

KALIBANTENG KULON – Warga Lokalisasi Sunan Kuning (SK) Semarang menolak kedatangan para pekerja seks komersial (PSK) dari lokalisasi Dolly Surabaya. Hal itu menyusul ditutupnya lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara tersebut. Selain khawatir akan menularkan banyak penyakit, di lokalisasi SK saat ini juga sedang getol-getolnya melakukan upaya untuk mengentaskan para PSK dari lembah hitam.
”Kami selalu mendidik untuk mengentaskan para penghuni SK sini agar tidak selamanya menjadi wanita tuna susila,” kata Wakil Ketua Resos Sunan Kuning, Slamet Suwandi, kemarin.
Suwandi mengatakan, untuk menjadi anak asuh di Resos Sunan Kuning, yang utama adalah dilakukan skrining kesehatannya, kemudian orang tersebut drop out, serta ditinggal oleh suaminya. ”Selain itu, pihaknya dalam menerima anak asuh baru perlu dilakukan musyawarah dengan anggota lainnya,” ujarnya.
Dikatakan, saat ini banyak anak asuh dari luar yang terkena penyakit, sehingga apabila diterima tentunya dapat menjadi bumerang bagi pengelola SK sendiri. ”Kita tidak ingin menambah anak asuh. Kami akan menambah anak asuh baru, jika memang ada yang keluar. Itu pun harus lewat penyeleksian yang ketat,” katanya.
Dikatakan, di resos Sunan Kuning, selama ini para PSK mendapat pelatihan seperti menjahit, menyulam, serta kerajinan lainnya. Tujuannya, sebagai bekal para PSK jika sudah berhenti sebagai wanita tuna susila.
”Jadi, mereka bekerja sambil belajar keterampilan. Sehingga ketika sudah mampu, bisa keluar untuk menekuni keterampilan yang selama ini dipelajari,” ujarnya.
Koordinator Lapangan Griya Asa PKBI, Ari Istiadi, mengatakan, di lokalisasi Sunan Kuning ini pada hari tertentu dilakukan pemeriksaan kesehatan, seperti yang digelar kemarin (19/6). Skrining kesehatan kemarin dilakukan terhadap para PSK yang tinggal di wilayah tiga RT, yakni RT 4, 5 dan 6 RW IV.
”Mereka (PSK) selain mengikuti pertemuan, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh puskesmas setempat,” katanya.
Dalam setiap pertemuan, kata dia, banyak yang dibahas. Misalnya, soal penggunaan wajib kondom bagi pria hidung belang, serta menyangkut pengamanan secara fisik. Selain itu, juga menggalakkan program menabung. ”Harapannya, dengan uang tabungan itu kelak bisa merintis usaha yang positif,” ujarnya.
Dikatakan, saat ini jumlah anak asuh di Sunan Kuning sebanyak 650 orang. Jumlah itu jauh lebih sedikit ketimbang penghuni lokalisasi Dolly Surabaya yang mencapai 1.183 orang. ”Saya yakin akan banyak penghuni Dolly yang eksodus. Tapi, kami sudah tegas menolak para anak asuh dari Dolly. Karena anak asuh dari sana dikenal banyak memiliki penyakit,” katanya. (hid/aro/ce1)