Pelaku Memanfaatkan Gejolak Emosi

318

AKSI penipuan lewat telepon, baik telepon genggam maupun telepon rumah, masih terus terjadi. Aksi penipuan seperti itu sepertinya tak bisa dicegah aparat keamanan dan pelaku terus beraksi mencari mangsa mereka.
Menurut Psikolog Probowatie Tjondronegoro, dalam aksinya pelaku cenderung memanfaatkan gejolak emosi. ”Misalnya dapat hadiah mobil, entah via SMS, telepon, atau dapetin semacam kartu yang digosok,” kata Probo.
Modus pelaku, menurutnya, juga bermacam-macam. Pelaku tindak kriminal tersebut sering memanfaatkan rasa cemas sang korban. ”Setelah ia ditelepon karena misalnya ada sanak saudara yang mengalami kecelakaan, ia langsung cemas. Nah inilah yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku,” tutur Probo.
Rasa cemas yang berlebihan tersebut, dapat menghilangkan akal sehat dalam diri seseorang. Sehingga orang tersebut cenderung kalut saat mengetahui ataupun mendapatkan kabar buruk yang berkaitan dengan keluarganya. Kabid Humas Rumah Sakit St Elisabeth Semarang ini juga mengakui, jika ia pernah mengalami hal serupa. ”Oleh karena itu, kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak cemas jika menerima telepon yang bersifat dadakan,” tutur Probo.
Ia juga, dalam satu minggu terakhir, ada 3 kali laporan masyarakat yang pernah ditelepon pihak tak bertanggung jawab dan mengatasnamakan RS St Elisabeth. ”Banyak yang mengaku-ngaku dari pihak RS Elisabeth, lantas menelepon korban untuk meminta uang agar ditrasfer ke rekening tertentu,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Probo menjelaskan, seluruh RS memiliki standar tersendiri jika akan menghubungi keluarga dari pasien. Pihak RS tidak pernah meminta untuk mentrasfer uang, namun keluarga pasien, akan disuruh datang ke RS. Jika pasien tidak memiliki identitas, maka akan diserahkan ke pihak yang berwajib.
Probo mengimbau masyarakat untuk tidak panik ketika mendapat telepon dari seseorang tak dikenal. Komunikasikan hal tersebut dengan pihak keluarga lain atau datang mengecek ke lokasi atau RS yang dilaporkan.
Menurutnya, pelaku penipuan melalui telepon kerap memainkan sugesti pada korban. ”Seakan-akan korban dibawa ke alam bawah sadar yang nantinya akan menuruti kemauan sang pelaku,” katanya.
Perempuan yang menyelesaikan studi Magisternya di Universitas Gajah Mada Jogjakarta ini, juga mengimbau masyarakat agar tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan seseorang yang belum dikenal. Apalagi jika komunikasi tersebut melalui telepon. (mg1/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.