Sembelih Ratusan Kambing, Masak Tidak Dicicipi

430

Tradisi Unik Menjelang Bulan Puasa Ramadan

 
Menjelang bulan Ramadan, digelar upacara adat di berbagai tempat di Kabupaten Temanggung. Kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai ritus yang berbeda. Seperti apa?

ABAZ ZAHROTIEN, Temanggung
 
Upacara adat di daerah lereng Sindoro dan Sumbing tidak pernah luntur dari maraknya perkembangan peradaban pada era sekarang ini. Setiap hari Jumat menjelang Ramadan, menjadi hari yang paling penuh dengan agenda upacara adat. Pada Jumat lalu (20/6), belasan upacara adat diselenggarakan dalam waktu yang sama dengan konsep tradisi yang berbeda.
Di Dusun Pete, Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan adalah dusun yang paling meriah menggelar upacara adat ini. Ribuan warga dari berbagai umur dan kalangan berkumpul bersama di kuburan desa. Mereka menggelar doa bersama dan upacara adat tahunan ini. “Ritual ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali secara besar-besaran. Kalau yang biasa setiap tahun,” kata Kepala Desa Kembangsari, Pujiyanto.
Ritual ini dimulai dari kirab benda-benda pusaka milik para sesepuh desa terdahulu, pusaka yang disebut Parang Joyo Kesumo ini diarak keliling desa. Dalam arak-arakan tersebut, warga juga menggotong tumpeng rombyong yang berisi hasil-hasil bumi berupa sayur mayur dan nasi tumpeng kuning. Tidak ketinggalan, sesaji juga turut serta dalam rombongan arak-arakan ini.
Tidak cukup hanya itu, paling mencolok adalah barisan ratusan ekor kambing yang berdiri berjajar dengan para pengiringnya. Kambing tersebut diarak keliling menuju pemakaman desa. Dalam makam tersebut, dipercaya menjadi peristirahatan Kyai Bogowonto dan Nyi Bogowonto yang memiliki kekuatan sakti pada zaman dahulu. “Kambing ini diperoleh dari warga yang bernazar dan doanya dikabulkan,” terangnya.
Secara simbolis, tiba di makam keramat tersebut, Kepala Desa Pujiyanto menyerahkan pusaka Parang Joyo Kesumo kepada sesepuh desa yang mengawali prosesi penyembelihan 100 ekor kambing. Setelah simbolis selesai, para tukang jagal lainnya langsung mengambil posisi menyembelih kambing di tempat-tempat yang telah disediakan. “Juga dikuliti di sini,” tambahnya.
Ia mengatakan, setelah proses penyembelihan rampung, warga desa ini mempercayai daging sembelihan tersebut tidak boleh dibawa ke rumah. Mereka khawatir apabila daging tersebut dibawa pulang maka akan timbul bencana (sengkolo). Untuk mengolah daging tersebut, warga membuat dapur dadakan tidak jauh dari penyembilhan dan membawa pulang dalam bentuk masakan siap saji.
Di Dusun Demangan, Desa Candimulyo, Kecamatan Kedu, upacara serupa juga digelar meriah. Berbeda dengan nyadran Pete, di dusun perbatasan dengan Kecamatan Temanggung ini berlangsung lebih khidmat. Ratusan warga berbondong-bondong membawa makanan hasil masakan mereka ke makam Kiai Demang yang dipercaya sebagai tokoh dusun ini. Uniknya, masakan yang dibawa tersebut dimasak tanpa boleh dicicipi terlebih dahulu.
Bagjo Utomo, 73, salah seorang sesepuh desa mengatakan, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dahulu. Tradisi ini tidak pernah terlewatkan digelar setiap Jumat Kliwon.  Tradisi nyadran ini sendiri berlangsung selama satu hari satu malam dengan tiga acara utama. Yakni tahlilan bersama di pesarean, nyadran bersama, serta langen suko budoyo ringgit purwo atau pergelaran wayang kulit.
Ada beberapa yang unik dalam tradisi ini. Antara lain setelah prosesi berdoa tersebut, warga akan berbondong-bondong memanggul tenongan secara arak-arakan menuju makam tersebut untuk bersama-sama menyantap makanan dari tiap keluarga.
“Dalam tenongan itu berisi antara lain ayam, nasi, daging kambing sebanyak 90 persen, dan lauk pauk lainnya. Memang kami ini datang dari kalangan yang mayoritas berprofesi sebagai pedagang daging kambing dan krecek kulit, selain juga bertani. Meski telah matang, kami tidak berani mencicipinya sebelum ritual dimulai, ini memang tradisi turun-temurun, katanya kalau dilanggar akan mendatangkan malapetaka,” imbuhnya.
Di samping itu, yang unik lainnya adalah pergelaran wayang kulit dengan lakon “Mbangun Candi” setelah arak-arakan. Dalangnya sendiri tetap masih sama selama hampir 22 tahun yakni Legowo dari Sirowo, Kranggan.
Meski demikian sakral acara rutin ini, katanya pernah sekali terhenti pada saat agresi Belanda ke II, lantaran saat itu keadaan tengah genting. “Sekali saja terhenti, selain itu belum pernah. Bahkan Belanda tidak bisa masuk Dusun Demangan ini karena di mata mereka hanya kelihatan seperti hutan belantara saja. Padahal didalamnya tumbuh suatu kearifan masyarakat yang luhur, tanpa tersentuh penjajah,” terangnya. (*/lis)